Harga Minyak Jatuh 11% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

- Selasa, 24 Maret 2026 | 07:50 WIB
Harga Minyak Jatuh 11% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran

Analis memperkirakan kerugian produksi minyak Timur Tengah mencapai angka yang fantastis: 7 hingga 10 juta barel per hari. Angka itu membuat Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, berkomentar pedas.

Menurutnya, krisis saat ini bahkan lebih buruk dibandingkan dua guncangan minyak pada era 1970-an jika digabungkan sekalipun.

Krisis pasokan memaksa langkah-langkah darurat. AS disebut melonggarkan sanksi untuk minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut. Di India, perusahaan kilang berencana kembali membeli minyak Iran. Kilang-kilang lain di Asia juga dikabarkan mempertimbangkan hal serupa, kata para trader kepada Reuters.

Di sisi lain, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan negaranya kecil kemungkinan akan melepas cadangan minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) untuk menenangkan pasar selama perang ini berlangsung.

Gangguan pasokan juga terjadi dari Rusia. Pelabuhan Ust-Luga di Baltik sudah kembali beroperasi setelah peringatan serangan drone dicabut. Tapi pelabuhan Primorsk masih ditutup akibat serangan udara, memperparah ketatnya pasokan global.

Lalu, bagaimana dengan dampak inflasi? Gubernur Federal Reserve Stephen Miran berpendapat masih terlalu dini untuk menilai efek lonjakan harga energi ini. Meski begitu, ia masih melihat ruang untuk penurunan suku bunga guna mendukung pasar tenaga kerja. Logikanya, suku bunga rendah bisa memacu ekonomi dan permintaan energi.

Sementara The Fed bersikap hati-hati, Bank of Japan (BOJ) justru bersiap menyesuaikan kebijakan. Mereka membuka peluang kenaikan suku bunga pada April nanti, menanggapi pelemahan yen dan tekanan inflasi dari konflik Timur Tengah. Pemerintah Jepang bahkan mempertimbangkan intervensi langsung di pasar berjangka minyak mentah.

Dampaknya merambat ke Eropa. Survei Komisi Eropa menunjukkan kepercayaan konsumen zona euro anjlok ke level terendah sejak akhir 2023. Perang dan harga energi yang melambung jelas membebani ekonomi.

Dan efeknya terasa hingga ke bandara. Perjalanan udara global masih kacau balau. Penutupan hub utama seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi membuat puluhan ribu penumpang terlantar. Konflik yang awalnya terasa jauh, kini dampaknya menjalar ke mana-mana.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar