Padahal, sebelumnya suasana sangat muram. Ancaman serangan balasan antara Israel dan Iran sempat membuat semua orang waspada.
Chris Larkin, seorang analis di E"TRADE dari Morgan Stanley, memberi catatan hati-hati. Menurutnya, reli pasar ini digerakkan oleh kabar yang berpotensi positif dari Timur Tengah. Tapi dia ingatkan, untuk bisa bertahan, rally ini butuh perkembangan geopolitik yang nyata dan berkelanjutan. Bukan sekadar pernyataan.
Efeknya juga terasa di pasar uang. Taruhan investor atas kenaikan suku bunga The Fed mereda drastis. Peluang suku bunga naik di Desember sekarang cuma sekitar 24%, jauh turun dari angka di atas 50% sebelumnya. Ini perubahan besar dari sentimen pekan lalu, ketika The Fed bersikap hawkish dan memproyeksikan inflasi lebih tinggi, sehingga pasar hampir menyerah harapan akan pemangkasan suku bunga tahun ini.
Sektor energi jadi korban. Harga minyak mentah anjlok lebih dari 7%. Saham-saham besar seperti Exxon Mobil dan Chevron ikut terpuruk, membuat sektor energi jadi satu-satunya yang berwarna merah di tengah hijau merona.
Sebaliknya, saham-saham yang diuntungkan dari harga minyak rendah meroket. Maskapai penerbangan seperti American Airlines dan United Airlines naik lebih dari 4.5%. Yang lebih spektakuler, perusahaan kapal pesiar seperti Carnival dan Norwegian Cruise Line melesat lebih dari 5.5%. Investor seolah berpesta, setidaknya untuk satu hari ini, sambil menunggu perkembangan selanjutnya dari kawasan yang tak pernah benar-benar tenang itu.
Artikel Terkait
Gubernur Fed Stephen Miran Desak Pemotongan Suku Bunga Lebih Agresif Dukung Pasar Tenaga Kerja
TOWR Catat Laba Bersih Rp3,68 Triliun di 2025, Tumbuh 10,3%
Tiga Emiten Siap Bagikan Dividen Tunai Rp13,17 Triliun pada April 2026
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik