Di tengah gejolak pasar energi yang memanas, Menteri Energi AS Chris Wright justru menyuarakan pandangan yang cukup mengejutkan. Menurutnya, lonjakan harga minyak global saat ini belum sampai pada titik yang bisa menekan permintaan. Pernyataannya itu dia sampaikan langsung di konferensi energi bergengsi CERAWeek di Houston, Texas, awal pekan ini.
Padahal, situasinya sendiri sedang tidak stabil. Harga minyak dunia sudah menembus level USD100 per barel. Pemicunya jelas: konflik bersenjata antara AS-Israel melawan Iran yang belum juga reda. Krisis ini bahkan disebut-sebut sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
“Kami ingin mengalirkan minyak ke kilang-kilang di Asia dan meminimalkan penurunan aktivitas pengilangan,”
Ucap Wright, menekankan bahwa kawasan Asia adalah yang paling merasakan dampak guncangan ini. Makanya, menjaga pasokan minyak untuk kilang di sana jadi prioritas utama pemerintahnya.
Di sisi lain, pemerintahan Trump tak tinggal diam. Sejumlah langkah diambil untuk meredakan kepanikan pasar. Salah satunya dengan melepas stok minyak dari Cadangan Minyak Strategis AS, bekerja sama dengan anggota International Energy Agency lainnya. Wright mengungkapkan, pada Senin lalu, AS akan melepas sekitar 1 hingga 1,5 juta barel per hari. Jumlah itu rencananya bakal ditingkatkan lagi, bisa mencapai 3 juta barel per hari.
Nah, kalau bicara soal perkembangan lain, Venezuela menarik untuk disimak. Wright menilai kondisi negara produsen minyak itu sekarang jauh lebih baik ketimbang beberapa bulan silam. Ini terjadi pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan pengambilalihan ekspor minyak Venezuela oleh AS. Hasilnya? Sekitar 200.000 barel produksi minyak mentah per hari berhasil dipulihkan.
Wright baru-baru ini berkunjung ke Caracas. Dia bertemu dengan presiden sementara, Delcy Rodriguez, dan sempat melihat langsung ladang-ladang minyak di sana. Dari pertemuan itu, dia optimis Venezuela pada akhirnya akan menggelar pemilihan umum. Meski begitu, dia enggan merinci lebih jauh soal timeline atau syarat-syaratnya.
Semua langkah ini diambil sementara pasar masih terus berdegub kencang. Penutupan Selat Hormuz jalur pelayaran utama ditambah serangan-serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah, jelas meninggalkan kerusakan yang efeknya akan terasa untuk jangka panjang. Tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Ibu Hamil Diminta Waspadai Skincare Abal-Abal yang Berisiko Cacat Janin
BSI Bagikan Dividen Rp1,51 Triliun, Setara Rp32,81 per Saham
Harga BBM Global Melonjak Akibat Ketegangan AS-Iran, Hong Kong Catatkan Harga Termahal Rp72.253 per Liter
Beckham Putra Percaya Diri Hadapi Persija, Kemenangan atas PSIM Jadi Modal Berharga Persib