Pengunduran diri Ade Armando dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi babak baru dalam rangkaian polemik yang dipicu oleh laporan puluhan organisasi masyarakat Islam ke kepolisian. Langkah tersebut diambil oleh akademisi yang juga dikenal sebagai pegiat media sosial itu di tengah tekanan yang kian meluas pasca dugaan pemotongan ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla.
Pernyataan resmi pengunduran diri Ade Armando disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, pada Selasa (5/5). Ia hadir mendampingi Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, dan secara terbuka mengumumkan keputusannya untuk melepaskan status sebagai kader partai berlambang gajah tersebut. Ade menegaskan bahwa tidak ada konflik internal yang mendorong keputusannya, melainkan pertimbangan untuk kebaikan bersama di tengah eskalasi persoalan yang menjeratnya.
“Melalui konferensi pers ini saya menyatakan mengundurkan diri dari PSI. Tidak ada konflik antara saya dengan PSI, tapi saya mundur menurut saya demi kebaikan bersama,” ujar Ade dalam kesempatan tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, turut angkat bicara menanggapi kasus yang menimpa Ade Armando. Ia berharap peristiwa ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Menurutnya, praktik yang dinilai sebagai bentuk pembohongan publik dan agitasi propaganda sudah seharusnya dihentikan.
“Karena itu ini pelajaran buat siapapun. Bukan hanya kepada Ade Armando. Bahwa praktik-praktik pembohongan publik seperti itu yang menyerupai praktik agitasi dan propaganda yang bertujuan menggiring opini sesat, untuk pembunuhan karakter terhadap seseorang, hendaknya dihentikan,” tegas Husain.
Artikel Terkait
OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,49 Persen pada Kuartal I 2026, NPL Terjaga di 2,1 Persen
Kebakaran di Tanjung Barat Tewaskan Auditor BPK, DPR Berduka
Guru BK di Garut Gunting Rambut Siswi SMK Tanpa Peringatan, Picu Tangis Histeris
Rusia Klaim Cegat Puluhan Drone Ukraina di Tengah Gencatan Senjata Sepihak Hari Kemenangan