Laba Bersih ABM Investama Anjlok 51% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara

- Senin, 23 Maret 2026 | 06:15 WIB
Laba Bersih ABM Investama Anjlok 51% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara

Kinerja keuangan PT ABM Investama Tbk (ABMM) sepanjang tahun lalu memang tak bisa dibilang cerah. Tekanan pada harga batu bara jadi salah satu penyebab utama. Belum lagi, cuaca ekstrem yang melanda di paruh pertama tahun turut memengaruhi operasional mereka.

Perusahaan yang masuk dalam naungan Trakindo Group ini hanya berhasil membukukan laba bersih USD70,5 juta untuk periode 2025. Angka itu terpangkas drastis, turun 51 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai USD139,4 juta. Penurunan yang cukup signifikan.

Laporan keuangan yang dirilis Minggu (22/3/2026) menunjukkan gambaran yang serupa di sisi pendapatan. Pendapatan konsolidasi perseroan anjlok 13,5 persen, dari USD1,20 miliar di 2024 menjadi USD1,04 miliar di tahun lalu. Rupanya, pelemahan ini terjadi hampir di semua lini bisnis mereka.

Segmen yang jadi tulang punggung, yaitu kontraktor tambang dan tambang batu bara, merosot 15 persen ke posisi USD755 juta. Logistik dan sewa kapal juga ikut melemah, meski tak terlalu dalam, hanya 3 persen menjadi USD136 juta.

Tak berhenti di situ, segmen perdagangan bahan bakar ikut terimbas dengan penurunan 12 persen. Sementara itu, bisnis Site Service Division (SSD) dan repabrikasi mereka terkoreksi 8 persen. Singkatnya, hampir tak ada yang luput dari tekanan.

Hal menarik lain, lebih dari separuh pendapatan ABMM ternyata bersumber dari pihak-pihak berelasi. PT Borneo Indobara menyumbang 28,77 persen, disusul PT Binuang Mitra Bersama 16,96 persen, dan PT Multi Harapan Utama 9,23 persen. Jika dijumlah, kontribusi ketiganya mencapai 55,2 persen dari total penjualan perusahaan.

Di tengah penurunan pendapatan, ABMM berusaha berhemat. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan 13 persen menjadi USD934 juta. Sayangnya, efisiensi itu tak cukup untuk menopang laba kotor yang tetap merosot 21 persen, hanya tersisa USD103 juta.

Laba usaha pun ikut terjun bebas, anjlok 42 persen ke angka USD63 juta. Kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 10 persen, yang membengkak jadi USD58 juta, jelas menjadi salah satu pemicunya.

Di sisi lain, pendapatan dari entitas asosiasi juga tak luput dari koreksi, turun 44 persen. Meski beban keuangan berhasil ditekan cukup baik sebesar 30 persen, dampaknya terhadap laba bersih tetap terasa.

Setelah semua disesuaikan, termasuk pajak dan penghasilan lain, laba bersih yang tersisa ya angka USD70,5 juta tadi.

Namun begitu, di balik laporan laba yang suram, kondisi keuangan ABMM sebenarnya masih terlihat solid. Posisi kas dan setara kas mereka justru tumbuh 17 persen secara tahunan, mencapai USD199 juta. Ini setidaknya menunjukkan kekuatan finansial yang masih mereka miliki.

Tapi, ada juga catatan yang perlu diperhatikan. Persediaan mereka menyusut cukup tajam, 33 persen, menjadi USD40 juta. Imbasnya, aset lancar turun 6 persen. Total aset perusahaan pun ikut berkurang 2 persen.

Di bagian liabilitas, utang jangka pendek turun 14 persen berkat berkurangnya utang usaha. Namun, utang bank jangka pendek justru melonjak tinggi, naik 22 persen. Sementara utang jangka panjang relatif stabil, hanya turun tipis.

Yang cukup menggembirakan, ekuitas ABMM justru tumbuh sekitar 4 persen. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya pun terpantau cukup sehat, mencapai USD691 juta. Jadi, meski tahun lalu berat, fondasinya belum goyah.

(Rahmat Fiansyah)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar