Rupiah akhirnya menyerah juga. Hari ini, mata uang kita menembus batas psikologis yang cukup menggetarkan: Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah suasana pasar yang tegang, melanjutkan tren negatif dari akhir pekan lalu.
Data Bloomberg mencatat, pada Senin siang (16/3/2026) sekitar pukul 14.34 WIB, rupiah terdepresiasi 0,25 persen persis ke level Rp17 ribu. Padahal, Jumat kemarin posisinya masih bertahan di Rp16.958.
Lalu, apa yang mendorong pelemahan ini? Menurut pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, sentimen dari Timur Tengah jadi biang kerok utamanya. Ketegangan geopolitik yang memanas pasca pernyataan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, soal kemungkinan penutupan Selat Hormuz, langsung mengguncang pasar.
Kekhawatiran itu sangat masuk akal. Bayangkan, selat sempit itu dilewati sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Gangguan di sana bukan main-main dampaknya; bisa memicu gelombang inflasi baru yang bikin semua negara, termasuk kita, waswas.
Artikel Terkait
Anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 Belum Dipangkas Pemerintah
IHSG Anjlok 1,61%, Sentimen Jual Dominasi Pasar
Merdeka Gold Jual Perdana 16 Kg Emas dari Tambang Pani ke Antam
Tiga Emiten Emas RI Masuk Indeks Global GDXJ, Respons Pasar Beragam