Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, bersikukuh akan menutup Selat Hormuz. Ini adalah jalur air vital tempat seperlima pasokan minyak dunia melintas. Meski secara militer AS dan Israel dianggap unggul, banyak analis yakin Iran akan bertahan dengan cara mengganggu lalu lintas kapal di selat itu. Itu ancaman serius.
Menyikapi hal ini, pemerintah AS pun bergerak. Departemen Keuangan mengatakan akan mengizinkan negara-negara membeli minyak mentah Rusia yang terkena sanksi kebijakan ini berlaku hingga 11 April. Langkah ini jelas untuk mengimbangi potensi gangguan pasokan.
Menteri Keuangan Scott Bessent juga mencatat, AS berencana menggunakan Angkatan Laut untuk mengawal kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengklaim lebih dari 15.000 target musuh telah dihancurkan, menyebutnya sebagai volume serangan udara terbesar AS di wilayah Iran.
Semua ketegangan ini langsung berimbas pada harga minyak. Brent, patokan minyak global, akhirnya menembus level psikologis USD100 per barel. Prospek perang berkepanjangan di jantung kawasan penghasil minyak memang bikin investor resah.
Pekan ini pergerakan Brent sangat liar. Sempat melonjak nyaris ke USD120, lalu tiba-tiba terjun bebas di bawah USD90. Fluktuasi yang ekstrem.
Kieran Tompkins, ekonom senior untuk iklim dan komoditas di Capital Economics, memberikan pandangannya.
Dan prediksi itu sepertinya mulai terwujud lebih cepat. Pada pukul 16:09 ET hari Jumat, harga Brent sudah menguat 2,9 persen dan bertengger di USD103,29 per barel. Untuk sepekan, kenaikannya mencapai 11 persen. Angka yang cukup signifikan dan menambah beban bagi pasar keuangan global yang sudah lunglai.
Artikel Terkait
BEI Cabut Status Papan Khusus untuk NZIA, POLA, dan ZATA Mulai 16 Maret
Menteri Keuangan Purbaya Akui Turun 9 Kilogram Selama Menjabat
CBDK Catat Laba Bersih Rp1,36 Triliun, Melonjak 48% di 2025
BCA Bagikan Dividen Final Rp34,5 Triliun, Total 2025 Capai Rp41,4 Triliun