Wall Street kembali berakhir di zona merah pada Jumat lalu. Sentimen pasar jelas masih tertekan oleh konflik yang berkecamuk di Timur Tengah, dan itu tercermin dari pergerakan indeks.
Indeks S&P 500, misalnya, terperosok lebih dalam ke tren penurunan tiga mingguannya. Data dari Investing menunjukkan, indeks acuan itu kini telah anjlok lebih dari 3 persen sejak awal tahun. Padahal, data inflasi yang dirilis pekan lalu sebenarnya tak jauh dari ekspektasi. Tapi, data itu belum memasukkan dampak lonjakan harga minyak yang terjadi pasca-serangan AS dan Israel ke Iran akhir Februari lalu.
Rinciannya, S&P turun 0,6 persen ke level 6.632,53 poin. Dalam dua pekan terakhir saja, kerugiannya hampir mencapai 4 persen. NASDAQ Composite, yang diisi banyak saham teknologi, bahkan merosot lebih dalam 0,9 persen ke 22.105,36 poin. Untuk sepekan, indeks ini kehilangan 1,3 persen. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average relatif lebih tahan, hanya turun 0,3 persen ke 46.559,83 poin. Meski begitu, secara mingguan Dow tetap terpangkas 2 persen.
Intinya, semua indeks utama di Wall Street melemah. S&P dan Dow bahkan sudah tiga hari berturut-turut ditutup turun. Kenapa? Konflik dengan Iran tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Justru sebaliknya.
Presiden Donald Trump, di hari ketiga belas konflik, dengan tegas menyatakan bahwa operasi militer Washington telah menghancurkan kemampuan militer dan ekonomi Iran.
Dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin G7 Rabu lalu, Trump bahkan menyebut Iran akan segera menyerah.
Tapi, analis di Vital Knowledge tak begitu yakin. Mereka meremehkan laporan tersebut dan menilai pasar seharusnya tidak terlalu terpengaruh. Pasalnya, Teheran sendiri sama sekali belum menunjukkan sinyal menyerah. Malah, ancaman lain muncul.
Artikel Terkait
BEI Cabut Status Papan Khusus untuk NZIA, POLA, dan ZATA Mulai 16 Maret
Menteri Keuangan Purbaya Akui Turun 9 Kilogram Selama Menjabat
CBDK Catat Laba Bersih Rp1,36 Triliun, Melonjak 48% di 2025
BCA Bagikan Dividen Final Rp34,5 Triliun, Total 2025 Capai Rp41,4 Triliun