Sebenarnya, ini bukan kali pertama ADRO melakukan hal serupa. Mereka sudah beberapa kali terjun ke pasar untuk membeli kembali sahamnya. Yang terbaru, periode 3 Juni 2025 hingga 28 Februari 2026 lalu, perseroan menyerap cukup banyak: 556,2 juta saham, atau sekitar 1,89% dari total.
Kalau ditotal dengan aksi buyback sebelumnya di Mei-Juni 2025 yang menyerap 33 juta saham, maka saham treasuri ADRO kini mencapai 598,19 juta lembar. Angka itu setara dengan 2% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.
Lalu, apa alasan di balik langkah ini? Manajemen punya beberapa penjelasan. Di satu sisi, mereka ingin meningkatkan likuiditas perdagangan saham ADRO di pasar. Dengan begitu, harga saham diharapkan bisa lebih mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang sebenarnya.
Di sisi lain, aksi buyback ini juga dipandang sebagai cara untuk memberikan pengembalian yang baik bagi pemegang saham lama. Pada akhirnya, semua langkah itu bermuara pada satu titik: meningkatkan kepercayaan investor terhadap masa depan perusahaan.
Nah, tinggal tunggu hasil RUPS nanti. Apakah para pemegang saham akan menyetujui rencana senilai triliunan rupiah ini?
Artikel Terkait
Direktur Utama Dharma Polimetal Mundur Setelah 36 Tahun Bekerja
Wall Street Dibayangi Inflasi dan Gejolak Minyak, Pasar Terbelah
ELPI Bagikan Dividen Rp126 Miliar untuk Tahun Buku 2025
DSSA Setujui Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Rp3.750