Namun, ada catatan penting dari para analis. Simon Flowers dari Wood Mackenzie mengingatkan, bahkan jika perang berakhir, pasokan minyak tak akan serta-merta pulih seperti sediakala.
Ia menambahkan bahwa memulai kembali produksi dari sumur yang telah ditutup lama bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan lebih.
Di lapangan, perang ternyata belum reda. AS dan Israel justru melancarkan serangan udara paling intens sejak konflik dimulai pada hari Selasa itu. Sementara itu, Islamic Revolutionary Guard Corps Iran membalas dengan pernyataan keras: Teheran tak akan izinkan “satu liter pun minyak” diekspor jika serangan terus berlanjut.
Pasar juga digoyang oleh kabar lain. Trump disebut-sebut mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia terkait perang di Ukraina, plus melepas cadangan minyak darurat. Priyanka Sachdeva, analis Phillip Nova, melihat semua diskusi ini mengirim pesan yang sama: pasokan minyak akan tetap menemukan jalan ke pasar, dengan satu cara atau cara lain.
Meski begitu, para menteri energi G7 pada hari yang sama belum mencapai kata sepakat untuk segera melepas cadangan strategis. Mereka meminta International Energy Agency (IEA) untuk menilai situasi terlebih dulu.
Risiko gangguan pasokan tetap nyata. Saudi Aramco, raksasa minyak dunia, memperingatkan tentang “konsekuensi bencana” jika pelayaran di Selat Hormuz terus terganggu. Sekitar 1.9 juta barel per hari kapasitas pengolahan di Teluk telah dihentikan. Belum lagi insiden kebakaran di kilang Ruwais Refinery Abu Dhabi setelah serangan drone.
JPMorgan dalam catatannya pesimis. Mereka menyebut kebijakan pemerintah mungkin berdampak terbatas, kecuali jalur aman melalui Selat Hormuz benar-benar terjamin. Potensi kehilangan pasokan masih mengintai, bisa mencapai 12 juta barel per hari dalam dua minggu ke depan.
Di tengah semua gejolak ini, Goldman Sachs memilih bersikap hati-hati. Mereka belum mengubah proyeksi harga minyaknya karena situasi dinamis. Perkiraan mereka untuk harga Brent di kuartal akhir tahun ini adalah USD66 per barel, sementara WTI di angka USD62. Sepertinya, ketidakpastian masih akan berlanjut cukup lama.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,59%, Mayoritas Sektor Catatkan Kenaikan
IEA Siapkan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar, Bursa Asia Merespons Positif
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 per Gram, Sentuh Rp3,08 Juta
Wall Street Berakhir Bervariasi, Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen