Di tengah acara buka puasa bersama para wartawan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, kemarin, Gubernur Luthfi menyuarakan hal yang tegas. Ia menekankan bahwa keterbukaan informasi adalah hak publik yang mutlak. "Saya perintahkan semua terbuka, jangan ada yang ditutupi," tegasnya. Menurut Luthfi, prinsip ini harus dijalankan secara blak-blakan, bukan cuma untuk kalangan pers, tapi juga masyarakat luas yang berhak bertanya. Di situlah letak akuntabilitasnya.
"Harus terbuka. Tidak hanya untuk wartawan, tetapi masyarakat boleh tanya," ujarnya lagi dalam keterangan tertulis yang dirilis Rabu (11/3/2026).
Acara silaturahmi itu sendiri bukan sekadar formalitas. Luthfi melihatnya sebagai momentum untuk merajut kolaborasi. Ia menggandeng insan pers, mengajak mereka bersama-sama membangun Jawa Tengah. Media, dalam pandangannya, punya peran strategis sebagai sarana penyebaran informasi sekaligus edukasi. Untuk itu, masukan dan kritik dari wartawan juga masyarakat sangat dibutuhkan.
"Tugas jurnalis sama dengan kita (pemerintah), dalam rangka untuk mendidik dan membangun masyarakat," kata Luthfi.
Di sisi lain, respons dari dunia jurnalistik pun datang. Ketua PWI Jateng, Setiawan Hendra Kelana yang akrab disapa Iwan sepakat bahwa ada misi bersama. Menurutnya, perjuangan jurnalis untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat sejalan dengan tujuan pemerintah. Hanya caranya yang berbeda: lewat tulisan, foto, atau video.
"Kita memiliki kewajiban itu," papar Iwan. "Dalam menjalankan profesi, kita memiliki hak untuk mendapatkan informasi publik, pun berhak untuk mendapatkan informasi dari para narasumber."
Ia lantas menambahkan catatan penting. Memang, informasi harus transparan. Tapi transparan bukan berarti telanjang begitu saja. Perlu ada proses check and recheck, verifikasi ke pihak-pihak terkait, agar pesan yang sampai ke publik utuh dan bertanggung jawab.
Kolaborasi antara Pemprov dan wartawan, baginya, adalah keniscayaan. "Ketika bagus kita sampaikan bagus, kalau ada kritik kita sampaikan juga dengan memberikan solusi," pungkas Iwan. Intinya, media bukan sekadar penonton. Mereka adalah bagian dari solusi.
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Dorong Kontes Sapi Perah untuk Pacu Produksi Susu
Pencairan PKH Tahap II 2026 Dimulai, Pemerintah Percepat Jadwal Demi Efisiensi Data
Tito Karnavian Ajak Kepala Daerah Sumbagsel Susun Program Prioritas 2027-2029
BRILink Agen Mekaar Tembus 426 Ribu Agen, Volume Transaksi Capai Rp3,52 Triliun