"Pasar keuangan global panik pada hari Senin karena menyadari bahaya dari penutupan berkepanjangan Selat Hormuz,"
Begitu tulis analis BCA Research dalam laporannya. Situasi itu yang membuat saham sempat tertekan.
Namun begitu, suasana berubah setelah Presiden Trump angkat bicara. Dalam wawancara dengan CBS News, ia menyatakan perang itu "sudah sangat selesai, hampir berakhir." Kalimat singkat itu cukup ampuh meredakan kepanikan. Saham berebut pulih, harga minyak turun dari puncaknya, dan imbal hasil obligasi mengendur menjelang penutupan.
Nah, pada perdagangan Selasa, koreksi di pasar minyak justru semakin dalam. Brent turun 7% ke posisi 92,01 dolar AS, sementara WTI anjlok 6,7% ke 88,39 dolar AS. Penurunan tajam ini tak lepas dari agenda para menteri energi negara-negara G7. Mereka dikabarkan akan mengadakan pembicaraan mendadak hari ini, membahas langkah stabilisasi pasar termasuk kemungkinan melepas cadangan minyak darurat.
Jadi, ke mana arah pasar selanjutnya? Semua mata kini tertuju pada dua hal: keputusan konkret dari pertemuan G7 dan tentu saja, setiap perkembangan baru dari garis depan di Timur Tengah. Ketegangan di sana, rupanya, masih menjadi pengendali utama napas pasar global.
Artikel Terkait
Pupuk Indonesia Niaga dan Semen Baturaja Jalin Kerja Sama Perdagangan Clay
OJK Wajibkan Dana IPO Ditampung dalam Rekening Khusus
Pemerintah Tegaskan Belum Ubah APBN Meski Harga Minyak Sempat Melonjak
PT ITSEC Asia (CYBR) Rencanakan Stock Split 1:2, Tunggu Persetujuan RUPSLB April 2026