Wall Street kembali bergoyang. Indeks-indeks utama dibuka di zona merah pada Selasa (10/3/2026), menyerap sentimen negatif yang tiba-tiba muncul dari Washington. Padahal, sehari sebelumnya, suasana pasar sempat lebih cerah setelah komentar Presiden Donald Trump.
Menurut data dari Investing, Dow Jones merosot 30,6 poin ke level 47.771,43. S&P 500 dan Nasdaq juga ikut melemah, meski penurunannya tipis. Pergerakan ini jelas kontras dengan penutupan sesi Senin yang lebih optimis.
Lalu, apa yang terjadi? Rupanya, sejumlah pejabat AS melepas komentar yang justru mengisyaratkan eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Ini seperti guyuran air dingin bagi pasar yang baru saja dihangatkan sinyal perdamaian dari Trump.
Sejujurnya, awal pekan ini pasar memang seperti rollercoaster. Sentimen sempat sangat muram menyusul terpilihnya pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei. Figur ini, putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, langsung dicermati dengan was-was. Banyak analis menilai kebijakannya akan lebih keras, sehingga harapan untuk konflik cepat berakhir pun menguap.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Lihat saja reaksi pasar energi. Harga minyak mentah dunia melonjak drastis, bahkan sempat menyentuh angka 120 dolar AS per barel level yang tidak terlihat sejak 2022. Pemicunya jelas: ketakutan akan gangguan di Selat Hormuz. Jalur sempit itu adalah urat nadi bagi seperlima pasokan minyak global. Bayangkan jika sampai macet.
Efeknya berantai. Lonjakan harga energi langsung mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik. Pasar mulai khawatir inflasi akan kembali menggila, dan spekulasi tentang kenaikan suku bunga bank sentral pun mencuat.
Artikel Terkait
Pupuk Indonesia Niaga dan Semen Baturaja Jalin Kerja Sama Perdagangan Clay
OJK Wajibkan Dana IPO Ditampung dalam Rekening Khusus
Pemerintah Tegaskan Belum Ubah APBN Meski Harga Minyak Sempat Melonjak
PT ITSEC Asia (CYBR) Rencanakan Stock Split 1:2, Tunggu Persetujuan RUPSLB April 2026