Perjalanan emas belakangan ini memang roller coaster. Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di angka USD5.594,82 pada akhir Januari lalu, harganya sempat melesat lagi di atas USD5.400 awal pekan ini. Sentimen safe haven mendorongnya, menyusul dimulainya kampanye udara AS-Israel.
Tapi kemudian, angin berubah. Dolar AS ternyata juga menarik dana-dana yang mencari perlindungan. Indeks dolar naik 0,5 persen, membuat emas jadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun meroket ke level tertinggi dalam tiga pekan. Ini meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset seperti emas yang tidak memberikan bunga.
Meski diterpa badai, Bart Melek melihat fundamental emas sebenarnya masih kokoh. "Pada suatu titik kita akan mulai melihat bukti defisit AS yang jauh lebih besar serta tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi," katanya meyakinkan.
Sementara data dari AS sendiri cukup beragam. Klaim tunjangan pengangguran mingguan ternyata stagnan. Tapi di sisi lain, jumlah pemutusan hubungan kerja pada Februari justru turun tajam. Bank Sentral AS juga menyatakan ekonomi bergerak naik tipis, harga-harga masih naik, dan lapangan kerja relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir.
Dengan kondisi campur aduk itu, pasar kini hampir sepakat bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan 18 Maret nanti. Semua mata kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS untuk Februari yang akan dirilis Jumat. Data itu diharapkan bisa memberikan petunjuk lebih jelas tentang arah kebijakan selanjutnya.
Pelemahan tak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya juga ikut terperosok. Perak spot turun 1,8 persen ke USD81,91 per ons. Platinum melemah 1,1 persen menjadi USD2.125,10. Yang paling parah, paladium merosot 2,4 persen ke level USD1.634,15. Pekan yang cukup berat bagi para bull logam mulia.
Artikel Terkait
Harga Minyak Meroket Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah
Wall Street Anjlok Diterpa Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah
Saham Elnusa (ELSA) Cetak Rekor Tertinggi Sejak 2008, Tembus Rp1.050
Analis Prediksi IHSG Alami Tekanan Jual Jelang Akhir Pekan