Persaingan di bisnis popok dan pembalut memang sedang panas-panasnya. Banyak pemain baru bermunculan, langsung menekan pemain lama seperti Unicharm yang mengandalkan merek andalan MamyPoko dan Charm. Sebagai respons, perusahaan mencoba meluncurkan lini produk lebih ekonomis dengan merek Fitti. Namun begitu, hasilnya belum terlihat, belum cukup untuk mengubah arah angin.
Di tengah semua berita buruk itu, ada sedikit titik terang. Arus kas operasi Unicharm ternyata masih positif, malah naik jadi Rp435 miliar dari sebelumnya Rp395 miliar di akhir 2024. Posisi kas mereka juga masih tebal, mencapai Rp1,96 triliun per akhir Desember 2025. Setidaknya, dari sisi likuiditas, mereka masih punya napas.
Neraca keuangannya secara keseluruhan juga masih terbilang solid. Piutang usai berkurang jadi Rp1,88 triliun, sementara persediaan barang naik ke level Rp1,22 triliun. Yang patut dicatat, perusahaan ini tidak punya utang berbunga sama sekali. Itu menunjukkan pola pengelolaan yang hati-hati.
Ekuitasnya, meski terkikis 22 persen akibat kerugian besar tadi, masih berada di angka Rp4,6 triliun. Jadi, meski luka di laba rugi terlihat parah, pondasi perusahaannya belum sepenuhnya goyah.
(Rahmat Fiansyah)
Artikel Terkait
Aturan BEI Ungkap Kepemilikan Saham Andry Hakim di RMKO dan SOTS
Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Pemerintah Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Imbas Penutupan Selat Hormuz
BEI dan KSEI Mulai Publikasi Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen