Foto Duta Besar AS di Ankara Picu Polemik: Gubernur Kolonial atau Kesalahan Protokol?

- Rabu, 21 Januari 2026 | 07:20 WIB
Foto Duta Besar AS di Ankara Picu Polemik: Gubernur Kolonial atau Kesalahan Protokol?

Pertemuan diplomatik seharusnya penuh dengan kesantunan. Tapi foto yang beredar dari Kementerian Pertahanan Turki di Ankara justru memantik badai kritik. Sorotannya? Posisi duduk Duta Besar AS, Tom Barrack.

Dalam foto itu, Barrack terlihat duduk sendirian di kursi tengah. Sementara Menteri Pertahanan Turki, Yasar Guler, beserta sederet komandan senior militer negara itu, duduk berjajar di sampingnya. Pertemuan itu sendiri berlangsung Jumat lalu, tapi fotonya baru ramai dibicarakan.

Bagi banyak warganet dan pengamat di Turki, susunan itu terasa janggal. Bahkan, lebih dari sekadar janggal. Mereka menilai sang Duta Besar tampak seperti sedang "cosplay" sebagai seorang gubernur kolonial yang mendominasi ruangan. Para pejabat tinggi Turki di sekitarnya dianggap seperti ditempatkan dalam posisi bawahan.

Kritik pun mengalir deras, terutama di media sosial. Atmosfer pertemuan bilateral yang seharusnya setara, dalam gambar itu, terasa sangat timpang.

Luftu Turkkan, anggota parlemen dari partai sayap kanan IYI, tak menyembunyikan kegeramannya.

"Apakah orang ini seorang Duta Besar atau seorang gubernur kolonial?" tanyanya lewat unggahan di X.
"Tidak ada yang berhak menggambarkan Turki dalam keadaan tidak berdaya seperti itu," tegas Turkkan.

Memang, Barrack bukan cuma duta besar biasa. Dia juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Donald Trump untuk Suriah. Namun begitu, pertemuan ini digelar di kantor Kemhan Turki, di ibu kota mereka sendiri. Banyak yang mempertanyakan kenapa justru tuan rumah yang terlihat "tersingkir" dari posisi sentral.

Foto itu, meski diam-diam, bicara banyak. Ia menangkap sebuah narasi tentang kekuasaan dan persepsi yang, bagi banyak orang Turki, terasa menyakitkan. Di sisi lain, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kedubes AS mengenai polemik susunan kursi ini. Mereka mungkin tak menyangka, bahwa sebuah pose duduk bisa berbicara lebih lantang daripada diplomasi itu sendiri.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar