Dia membeberkan, selama ini porsi impor yang melintasi Selat Hormuz memang berkisar 20-25 persen. Dengan jalur vital itu ditutup, maka seluruh porsi itu akan dialihkan ke AS. Tujuannya jelas: menjaga ketahanan energi agar tidak goyah.
Di sisi lain, Bahlil mengingatkan betapa strategisnya Selat Hormuz. Sekitar seperlima pasokan minyak global, atau setara 20,1 juta barel per hari, melewati selat sempit itu. Efek penutuannya bukan cuma soal militer, tapi bakal menggoyang stabilitas energi dunia.
Sebenarnya, sumber impor Indonesia selama ini sudah cukup beragam. Selain Timur Tengah dan AS, ada juga Angola, beberapa negara Afrika, hingga Brasil. Diversifikasi semacam ini jadi modal penting agar Indonesia tidak bergantung pada satu kawasan saja.
“Strateginya sederhana: kita tidak boleh terperangkap dalam dinamika global. Soalnya, ketegangan seperti ini benar-benar sulit ditebak kapan berakhir,” pungkas Bahlil.
Artikel Terkait
Aturan BEI Ungkap Kepemilikan Saham Andry Hakim di RMKO dan SOTS
Indonesia Alihkan Impor Minyak dari Timur Tengah ke AS Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Unicharm Indonesia Catat Kerugian Rp1 Triliun di 2025, Terburuk Sepanjang Sejarah
BEI dan KSEI Mulai Publikasi Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen