Iran Desak Dunia Hentikan Perang, Korban Jiwa Tembus 787 Orang

- Selasa, 03 Maret 2026 | 21:20 WIB
Iran Desak Dunia Hentikan Perang, Korban Jiwa Tembus 787 Orang

Suasana di Timur Tengah kembali mencekam. Konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat dengan Iran kian memanas, dan dampaknya sudah terasa luas ke negara-negara sekitar. Semuanya berawal dari serangan Sabtu lalu, 28 Februari 2026, yang tak hanya menelan korban jiwa tetapi juga memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka.

Angka korban tewas terus merangkak naik. Menurut laporan media pemerintah Iran yang mengutip Bulan Sabit Merah, jumlahnya kini mencapai 787 orang. Serangan yang menyasar lebih dari 500 lokasi di 153 kota itu benar-benar menghancurkan. Di kota Minab, di selatan Iran, suasana duka begitu terasa. Mereka baru saja menggelar pemakaman massal untuk 165 korban yang tewas setelah sebuah sekolah di sana dihantam.

Pemerintah Iran pun bersuara lantang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, dengan tegas menuntut agar serangan dihentikan.

"Mereka harus menghentikan perang. Kami tidak memulainya. Pilihan kami adalah diplomasi," ujarnya.

Dia tak berhenti di situ. Baghaei juga mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak sebelum semuanya terlambat. Peringatannya serius: gelombang efek dari konflik ini bisa dengan cepat melanda Eropa, bahkan seluruh dunia.

"Setiap pelanggaran hukum, setiap pelanggaran prinsip moral dan Piagam PBB, konsekuensinya akan dirasakan setiap manusia di bumi. Kalau negara-negara Eropa paham ini, mereka harus bangkit dari ketidakpedulian," tegasnya.

Di sisi lain, di medan lain, situasi juga bergolak. Israel dilaporkan telah memerintahkan pasukannya untuk maju dan merebut posisi-posisi di Lebanon selatan. Langkah ini memaksa tentara Lebanon mundur dari daerah perbatasan. Akibat pertikaian dengan kelompok Hizbullah yang dimulai Senin lalu, gelombang pengungsian pun tak terelakkan. UNHCR mencatat, setidaknya 30.000 orang kini mencari perlindungan di berbagai tempat penampungan di Lebanon.

Ketegangan ternyata merembet ke negara-negara Teluk. Dua drone menghantam Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi, dan memicu kebakaran kecil. Tak jauh dari sana, sebuah tangki bahan bakar di pelabuhan Duqm, Oman, juga jadi sasaran serangan drone. Serangan-serangan ini jelas meningkatkan tekanan di kawasan, terutama bagi negara-negara yang selama ini menampung aset militer AS.

Pihak Arab Saudi mengakui serangan terhadap kedubes AS itu menyebabkan "kerusakan material kecil". Namun, kabar kemudian menyebutkan lebih banyak drone datang menghantam lokasi yang sama, sebagai bagian dari pembalasan Iran atas serangan AS-Israel.

Respons Amerika mulai terdengar. Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa tanggapan AS terhadap serangan kedutaan dan tewasnya sejumlah personel militernya akan segera diumumkan.

"Anda akan segera mengetahuinya," kata Trump dalam wawancara dengan NewsNation, singkat namun penuh ancaman.

Masalahnya, Arab Saudi bukan satu-satunya. Kuwait juga mengonfirmasi adanya "serangan berbahaya" yang menargetkan Kedutaan Besar AS di Kota Kuwait. Sementara Qatar menyatakan tidak ada komunikasi yang berjalan dengan Iran, karena serangan yang dilancarkan ditujukan ke seluruh wilayahnya, bukan hanya ke situs-situs militer AS. Situasinya kian ruwet, dan jalan keluar terlihat masih sangat jauh.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar