Samsung Electronics dan SK Hynix, dua raksasa chip, masing-masing ambles lebih dari 8 persen. Hyundai Motor bahkan terpental lebih dari 10 persen. Padahal, saham-saham inilah yang sebelumnya mendorong reli bersejarah indeks, didorong euforia kecerdasan buatan.
Namun begitu, bukan berarti semua sektor berwarna merah. Ada beberapa kantong yang justru menguat. Saham kilang minyak dan perusahaan pelayaran naik, terdongkrak lonjakan harga minyak dan tarif angkut. Saham pertahanan juga ikut merangkak naik. Di sisi lain, maskapai penerbangan terpuruk.
Ironisnya, pelemahan tajam ini datang di tengah data fundamental yang sebenarnya cukup bagus. Aktivitas pabrik Korea justru berekspansi untuk bulan ketiga berturut-turut. Produksi dan ekspor, terutama chip, melonjak melebihi ekspektasi. Tapi sentimen risk-off global tampaknya mengubur semua kabar baik itu.
Dampaknya merambat ke instrumen lain. Won melemah ke level terendah dalam hampir sebulan. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah melonjak, didorong kekhawatiran inflasi menyusul kenaikan harga minyak. Yield obligasi tiga tahun naik signifikan, begitu juga dengan yield acuan sepuluh tahun.
Menyikapi gejolak ini, otoritas mulai dari kementerian keuangan, bank sentral, hingga regulator bersuara kompak. Mereka menyatakan terus memantau situasi dan siap mengambil langkah stabilisasi jika diperlukan. Pertanyaannya, apakah itu cukup untuk menenangkan pasar yang masih trauma? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
BEI dan KSEI Mulai Publikasi Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen
OJK Pacu Reformasi BEI, Targetkan Selesai Lebih Cepat dari Jadwal MSCI
Laporan Keuangan 2025: Pendapatan dan Laba Bersih Jasa Marga Anjlok
Saham OILS Melonjak 12% di Tengah Konflik Timur Tengah Meski Tak Berkaitan dengan Minyak Bumi