Pasar saham Korea Selatan diguncang kerugian besar pada Selasa (3/3/2026). Indeks KOSPI terperosok lebih dari 7 persen, mencatat hari terburuk dalam 19 bulan terakhir. Aksi jual massal ini, seperti dilaporkan Reuters, tak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan udara AS dan Israel terhadap Iran akhir pekan lalu.
Ketegangan makin memanas pekan ini. Israel membalas serangan Hizbullah dengan menyerang Lebanon. Sementara itu, Iran dikabarkan melanjutkan serangannya ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika. Situasi geopolitik yang memanas ini langsung memicu aksi ambil untung besar-besaran oleh investor asing, yang sebelumnya menikmati reli panjang pasar Korea.
“KOSPI kembali melemah akibat kerugian yang baru sepenuhnya diperhitungkan setelah penutupan pasar sebelumnya, serta tekanan ambil untung oleh investor asing setelah lonjakan indeks baru-baru ini,”
Kata analis Daishin Securities, Lee Kyoung-min, mencoba menjelaskan kekacauan di lantai bursa.
Padahal, otoritas bursa sempat mengaktifkan mekanisme sidecar di awal sesi untuk meredam penurunan tajam. Tapi upaya itu tampaknya sia-sia. Indeks terus merosot dan akhirnya ditutup di level 5.791,91, anjlok 7,24 persen. Ini penurunan harian terbesar sejak Agustus 2024 silam. Pelemahannya jauh lebih dalam dibanding pasar Asia lain seperti Jepang dan Taiwan yang 'hanya' turun sekitar 2 persen.
Yang menarik, semua ini terjadi di hari pertama perdagangan setelah pasar Korea libur nasional pada Senin. Investor asing langsung membanjiri pasar dengan aksi jual, memperpanjang tren menjadi sembilan sesi beruntun. Mereka melepas aset lokal senilai 5 triliun won, setelah sehari sebelumnya mencatat rekor penjualan 7,1 triliun won. Tekanan jual menghantam hampir semua sektor, terutama saham-saham besar yang sebelumnya jadi primadona.
Artikel Terkait
BEI dan KSEI Mulai Publikasi Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen
OJK Pacu Reformasi BEI, Targetkan Selesai Lebih Cepat dari Jadwal MSCI
Laporan Keuangan 2025: Pendapatan dan Laba Bersih Jasa Marga Anjlok
Saham OILS Melonjak 12% di Tengah Konflik Timur Tengah Meski Tak Berkaitan dengan Minyak Bumi