Perusahaan ini justru bergerak di minyak kelapa. Lebih spesifiknya, mereka memproduksi crude coconut oil (CCNO) dan produk turunannya. Mereka juga mengolah ampas atau bungkil kelapa dari sisa produksi. Pabriknya beroperasi di Mojokerto, Jawa Timur.
Menurut informasi, OILS termasuk salah satu eksportir minyak kelapa terbesar di Indonesia. Jangkauan pasar mereka sudah meluas ke sejumlah negara, sebut saja Malaysia, Thailand, sampai Bangladesh, Sri Lanka, dan Turki.
Lalu, bagaimana kinerja keuangannya? Sepanjang periode Januari hingga September 2025, OILS membukukan pendapatan usaha sebesar Rp754 miliar. Laba bersihnya di periode yang sama tercatat sekitar Rp6,4 miliar.
Jadi, kenaikan sahamnya kali ini lebih karena sentimen "minyak" secara umum akibat konflik, meski produknya berbeda. Pasar seperti bereaksi pada nama, sebelum melihat isinya. Menarik untuk dilihat, apakah momentum ini akan bertahan atau justru meredup setelah euforia berlalu.
Artikel Terkait
BEI dan KSEI Mulai Publikasi Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen
OJK Pacu Reformasi BEI, Targetkan Selesai Lebih Cepat dari Jadwal MSCI
Laporan Keuangan 2025: Pendapatan dan Laba Bersih Jasa Marga Anjlok
Pasar Saham Korea Anjlok 7,24%, Terburuk dalam 19 Bulan Akibat Ketegangan Timur Tengah