Dengan komposisi penjualan yang bergeser ke atas, rata-rata harga jual (blended ASP) para pengembang diproyeksi bisa naik minimal 10%. Hal ini tentu berpotensi memperbaiki margin keuntungan mereka.
Meski demikian, kehati-hatian tetaplah penting. Jangan lupa, segmen menengah ke bawah masih menyumbang sekitar 60% dari total permintaan domestik. Pemulihan di segmen ini belum solid, sehingga normalisasi prapenjualan diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2026.
Dalam kerangka berpikir seperti itulah, RHB lebih menyukai emiten dengan eksposur besar ke segmen high-end, seperti BSDE. Mereka juga melihat nilai plus pada pengembang dengan pendapatan berulang yang signifikan, contohnya PWON. Model bisnis seperti ini dinilai lebih tahan banting menghadapi gejolak permintaan properti.
Tentu, risiko selalu mengintai. Potensi perlambatan permintaan yang lebih dalam, keterlambatan penyelesaian proyek, atau perubahan regulasi yang tak terduga bisa menekan pasar. Itu semua faktor yang harus diwaspadai.
Pada akhirnya, keputusan investasi ada di tangan investor masing-masing. Analisis dan riset hanyalah panduan di tengau dinamika pasar yang terus berubah.
Artikel Terkait
Dua Investor Suntik Rp3,2 Triliun untuk Pabrik Kimia Strategis di Cilegon
IHSG Diproyeksi Terkoreksi, Dibayangi Capital Outflow dan Inflasi 4,76%
IHSG Menguat 0,54% di Awal Sesi, Rebound Usai Tekanan
Harga Emas Antam Turun Rp13.000 per Gram di Butik Setiabudi