Peluang di sektor properti ternyata masih ada, meski angin pemulihan ekonomi belum benar-benar terasa merata di semua kalangan. Daya beli masyarakat, terutama di segmen menengah, memang belum pulih sepenuhnya. Tapi, jangan salah, justru di tengah kondisi seperti ini, strategi selektif menjadi kunci.
Menariknya, meski angka prapenjualan atau presales untuk tahun buku 2025 terpantau melemah, ada pergeseran permintaan yang patut dicermati. Permintaan justru mengalir deras ke segmen properti high-end atau kelas atas. Fenomena ini yang membuat RHB Sekuritas, dalam risetnya tanggal 20 Februari 2026, mempertahankan sikap 'overweight' untuk sektor ini. Mereka melihat normalisasi penjualan ini sudah diantisipasi dari awal.
Data sepanjang 2025 menunjukkan gambaran yang jelas. Empat emiten besar BSDE, PWON, SMRA, dan CTRA mencatat presales gabungan Rp26,3 triliun. Angka itu turun tipis 1,2% dibanding tahun sebelumnya, tapi masih sejalan ekspektasi pasar.
Insentif pajak sempat jadi bantalan, lho. Kontribusinya mencapai sekitar 36% dari total prapenjualan. Namun begitu, dorongan dari insentif itu rupanya belum cukup kuat untuk mendongkrak pertumbuhan secara signifikan.
Di sisi lain, pergeseran bauran penjualan ini terasa nyata. Ambil contoh BSDE. Unit dengan harga di atas Rp5 miliar menyumbang sekitar 50% dari total penjualannya, naik cukup tajam dari 40% di tahun 2024. Pola serupa juga terlihat di tiga emiten lainnya: SMRA, CTRA, dan PWON. Mereka semua mencatat peningkatan kontribusi dari segmen atas.
Menurut analis RHB, permintaan dari kelompok berpenghasilan tinggi ini relatif lebih tangguh. Pemulihan ekonomi, rupanya, lebih cepat tercermin pada pembelian hunian premium. Sementara segmen menengah dan bawah masih tertatih-tatih.
Artikel Terkait
Dua Investor Suntik Rp3,2 Triliun untuk Pabrik Kimia Strategis di Cilegon
IHSG Diproyeksi Terkoreksi, Dibayangi Capital Outflow dan Inflasi 4,76%
IHSG Menguat 0,54% di Awal Sesi, Rebound Usai Tekanan
Harga Emas Antam Turun Rp13.000 per Gram di Butik Setiabudi