Di sisi lain, Indrawijaya Rangkuti, praktisi trading yang juga duduk di Board of Director IFTA, melihat strategi ini dengan optimis. Kehadiran lini bisnis seperti ERAL dan Erajaya Food & Nourishment membuat ERAA bisa menangkap belanja THR masyarakat di banyak titik, bukan cuma dari penjualan ponsel.
“Melihat langkah strategis manajemen, saya memproyeksikan ERAA berada dalam fase pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, jika transisi ke segmen non-telepon seluler berjalan mulus dan menyumbang 25-30 persen pendapatan ERAA tak lagi sekadar ‘toko hp’. Mereka akan berubah menjadi raksasa ritel gaya hidup modern.
Yang menarik, model bisnisnya juga diperkuat dengan program bundling perangkat dan layanan data bersama operator. Skema semacam ini bisa mendongkrak penjualan sekaligus mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang.
Layanan purna jual pun tak ketinggalan jadi perhatian. Beberapa penghargaan di bidang customer experience dan service quality yang diraih anak perusahaannya menunjukkan konsistensi di tengah persaingan yang makin ketat.
Dengan semua proyeksi ini, mayoritas analis memberi rekomendasi BUY atau outperform untuk saham ERAA. Target harganya berkisar di Rp540-Rp585, dengan estimasi paling optimis bisa mencapai Rp680.
“Saat ini ERAA seringkali diperdagangkan dengan valuasi yang menarik dibanding rata-rata historisnya. Hal ini menjadikan pilihan investasi yang prospektif untuk jangka menengah-panjang,” pungkas Indrawijaya.
Jadi, momentum Ramadan dan Lebaran memang berpotensi jadi pendorong jangka pendek yang manis. Namun begitu, bagi pelaku pasar, fokus utamanya tetaplah pada eksekusi strategi jangka menengah. Bagaimana perusahaan menerjemahkan ekspansi itu menjadi pertumbuhan laba yang nyata dan berlanjut. Itu kuncinya.
Artikel Terkait
IHSG Menguat 0,54% di Awal Sesi, Rebound Usai Tekanan
Harga Emas Antam Turun Rp13.000 per Gram di Butik Setiabudi
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pelemahan Pasar Saham Asia dan Lonjakan Harga Energi
Permintaan Properti High-End Tumbuh, Pasar Menengah Masih Tertatih