Di sisi lain, faktor fundamental juga mendukung. Harga batu bara sendiri sudah menembus USD119 per ton di akhir Februari lalu. Itu adalah level tertinggi sejak Desember 2024. Tampaknya, ekspektasi permintaan global yang tetap kuat berhasil mengalahkan segala kekhawatiran soal transisi energi bersih.
Fakta dari China, produsen dan konsumen batu bara terbesar dunia, memperkuat narasi ini. Negeri Tirai Bambu itu terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara. Keamanan energi dan keandalan jaringan listrik masih jadi prioritas Beijing, setidaknya untuk saat ini.
Investor kini menantikan arahan lebih lanjut dari pertemuan parlemen China yang akan datang. Acara tahunan "Two Sessions" dijadwalkan berlangsung mulai 4 hingga sekitar 11 Maret. Dalam forum itu, pemerintah China diperkirakan akan merilis Rencana Lima Tahun ke-15, yang memaparkan peta jalan kebijakan untuk periode 2026-2030. Hasilnya pasti akan disoroti ketat oleh pasar.
Sementara dari seberang lautan, Amerika Serikat juga memberi sinyal. Presiden Donald Trump mengalokasikan dana sekitar USD 175 juta untuk memodernisasi enam pembangkit listrik tenaga batu bara. Dia bahkan mengarahkan Departemen Pertahanan AS untuk membeli listrik dari fasilitas tambahan. Langkah ini jelas dimaksudkan untuk mendukung sektor yang sedang tertekan.
Jadi, gabungan antara sentimen geopolitik yang panas dan prospek permintaan yang masih bertahan, membuat saham-saham batu bara hari ini bersinar. Tapi ingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai investor. Pasar bisa berubah sangat cepat.
Artikel Terkait
IHSG Terkoreksi 1,6%, Mayoritas Sektor Tertekan di Awal Pekan
BEI Jatuhkan Lebih dari 3.000 Sanksi Sepanjang 2025, Mayoritas Keterlambatan Laporan
Impor Indonesia Tembus US$21,2 Miliar di Januari 2026, Naik 18,21 Persen
Harga Emas Pegadaian Melonjak Rp38-44 Ribu per Gram Imbas Ketegangan AS-Israel-Iran