Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar

- Selasa, 24 Februari 2026 | 06:50 WIB
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar

Pasar saham kita lagi dihantam sentimen negatif yang cukup berat. Aksi jual massal atau 'risk-off' itu dinilai sudah kelewat batas, sampai-sampai harga saham-saham unggulan tertekan jauh di bawah nilai wajar mereka. Intinya, salah harga.

Menurut riset Sucor Sekuritas yang terbit 23 Februari 2026, terjadi distorsi valuasi yang cukup ekstrem. Pemicunya? Peringatan dari MSCI soal potensi penurunan peringkat Indonesia karena isu investability. Nah, sentimen ini makin runyam dengan laporan mengenai kemungkinan pemerintah mengambil alih tambang emas Martabe, yang dikaitkan dengan dugaan kerusakan lingkungan.

Akibatnya, saham-saham bagus pun ikut terseret arus. Salah satu yang paling terpukul adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Harganya di level Rp7.200 itu sudah anjlok 10% sejak awal tahun, dan kalau dilihat setahun terakhir, pelemahannya mencapai 25%.

Analis Sucor melihat, pasar seolah mengasumsikan nilai intrinsik BBCA tergerus seperempatnya. Rasio implied-to-explicit return on equity (ROE) anjlok ke sekitar 1,4 kali. Angka itu mencerminkan ekspektasi yang jauh lebih suram ketimbang kondisi riil perusahaan.

Padahal, faktanya kinerjanya masih solid. Sepanjang 2025, BBCA masih mencatatkan pertumbuhan laba per saham (EPS) sekitar 5%, dengan ROE yang tetap tinggi di kisaran 21%. Jadi, tekanan harga lebih mencerminkan kepanikan pasar ketimbang pelemahan fundamental.

Lihat saja datanya. Dalam dua tahun terakhir, kredit mereka tumbuh rata-rata 12% per tahun. Total aset naik sekitar 6%. Net interest margin (NIM) stabil di 6%, dengan ROA di atas 4% dan ROE konsisten melampaui 21%.

Menariknya, Sucor justru melihat BBCA punya ruang untuk meningkatkan ROE-nya secara struktural. Posisi modal mereka kan konservatif, bahkan berlebih. Kalau leverage dinormalisasi dengan hati-hati dan aset dialihkan ke kredit yang lebih produktif, itu bisa jadi katalis pertumbuhan laba ke depannya.

Gelombang sell-off ini nggak cuma menghantam BBCA. Saham-saham unggulan lain dalam daftar rekomendasi 'buy' Sucor juga ikut terimbas. Beberapa di antaranya adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Lalu ada juga PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), serta PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Nah, di tengah situasi seperti ini, Sucor punya pandangan lain. Mereka justru melihat pelemahan harga sebagai peluang. Ruang bagi investor untuk mengoleksi saham berkualitas dengan harga diskon yang makin dalam.

Alasannya, mayoritas emiten tadi bergerak di sektor berbasis domestik. Sektor-sektor ini relatif lebih tahan banting menghadapi gejolak global. Mereka juga berpotensi dapat dorongan dari peningkatan belanja dan dukungan fiskal dalam negeri.

Jadi, di balik suasana pasar yang kelabu, ada potensi nilai yang tersembunyi. Tentu saja, keputusan akhir untuk membeli atau menjual sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar