Menariknya, Sucor justru melihat BBCA punya ruang untuk meningkatkan ROE-nya secara struktural. Posisi modal mereka kan konservatif, bahkan berlebih. Kalau leverage dinormalisasi dengan hati-hati dan aset dialihkan ke kredit yang lebih produktif, itu bisa jadi katalis pertumbuhan laba ke depannya.
Gelombang sell-off ini nggak cuma menghantam BBCA. Saham-saham unggulan lain dalam daftar rekomendasi 'buy' Sucor juga ikut terimbas. Beberapa di antaranya adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Lalu ada juga PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), serta PT Mayora Indah Tbk (MYOR).
Nah, di tengah situasi seperti ini, Sucor punya pandangan lain. Mereka justru melihat pelemahan harga sebagai peluang. Ruang bagi investor untuk mengoleksi saham berkualitas dengan harga diskon yang makin dalam.
Alasannya, mayoritas emiten tadi bergerak di sektor berbasis domestik. Sektor-sektor ini relatif lebih tahan banting menghadapi gejolak global. Mereka juga berpotensi dapat dorongan dari peningkatan belanja dan dukungan fiskal dalam negeri.
Jadi, di balik suasana pasar yang kelabu, ada potensi nilai yang tersembunyi. Tentu saja, keputusan akhir untuk membeli atau menjual sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
BRI Bagikan Dividen Rp52,1 Triliun dari Kinerja 2025
Cadangan LPG Nasional Kembali Normal Setelah Sempat Kritis
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun