Berkat pendapatan satu kali itu, laba usaha Jaya Ancol 'hanya' turun 13 persen menjadi Rp325 miliar. Ditambah lagi, beban keuangan mereka juga turun signifikan, 25 persen, sehingga akhirnya laba bersih yang diraih mencapai Rp180 miliar. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding realisasi 2024 yang Rp178 miliar.
Direktur Utama Jaya Ancol, Winarto, sebelumnya telah memberikan proyeksi. Dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) awal Desember 2025, ia menyebut pendapatan tahun itu akan berada di kisaran Rp1,1 triliun.
Prediksinya ternyata akurat untuk pendapatan. Tapi untuk laba bersih, realisasinya justru melesat jauh. Manajemen awalnya memproyeksikan Rp101 miliar, namun kenyataannya hampir dua kali lipat. Kelebihan itu, sekali lagi, tak lepas dari suntikan dana kompensasi proyek tol HBR II.
Di balik angka-angka yang terdengar positif itu, tekanan operasional sebenarnya masih membayangi. Jumlah pengunjung di beberapa unit rekreasi utama mereka masih lesu. Pasar yang belum benar-benar pulih dan persaingan yang makin ketat di wilayah Jabodetabek jadi penyebab utamanya.
Belum lagi beban operasional tetap yang terus membengkak. Biaya untuk pemeliharaan, utilitas, dan peremajaan wahana yang sudah tua terus naik. Di sisi lain, aset-aset itu terus menyusut nilainya karena depresiasi. Kombinasi ini berpotensi memberi tekanan serius pada kinerja keuangan mereka di masa mendatang.
Jadi, meski laba bersihnya naik tipis, jalan di depan untuk Jaya Ancol belum sepenuhnya mulus.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Stabil di Rp 2,857 Juta per Gram, PPN Dihapus
IHSG Anjlok Hampir 1%, Ditekan Saham Konglomerasi dan Bank Besar
OJK, BEI, dan KSEI Rampungkan Empat Agenda Kunci Perkuat Transparansi Pasar Modal
IHSG Turun 0,99%, Nilai Transaksi Anjlok 36,69% Pekan Lalu