tambahnya.
Tahun ini, fokus utama LION sebenarnya cukup jelas: menjaga margin keuntungan. Itu bukan perkara mudah, mengingat harga bahan baku seperti baja yang naik-turun, belum lagi kenaikan tarif PPN yang harus dihadapi.
Lawer mengakui, kinerja penjualan perseroan belakangan ini memang menurun. Situasinya diperparah dengan penurunan harga jual dan membanjirnya kompetitor dari China di pasar.
katanya menjelaskan dinamika yang dihadapi.
Jadi, di tengah persaingan ketat dan pasar yang bergejolak, langkah digitalisasi dan otomatisasi ini seperti sebuah taruhan. Semoga saja, dengan anggaran miliaran rupiah itu, LION bisa menemukan momentumnya kembali.
Artikel Terkait
Pasar Saham Bergejolak: Yanaprima (YPAS) Melonjak 119%, IHSG Melemah
BEI Umumkan 9 Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tinggi, BREN dan DSSA Masuk Daftar
IHSG Anjlok 1% Ditekan Aksi Jual Asing Rp2,95 Triliun
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Rp20.000, Galeri24 dan UBS Turun Tipis