Pasar saham kita lagi ramai banget dibicarakan. Dalam rentang waktu 30 Maret sampai 2 April kemarin, pergerakan harga di Bursa Efek Indonesia benar-benar menunjukkan drama. Volatilitasnya tinggi, dengan beberapa saham melesat tajam, sementara yang lain justru terjun bebas dalam hitungan hari.
Kalau lihat dari sisi yang terang, ada beberapa saham yang kinerjanya luar biasa. Yanaprima Hastapersada (YPAS) jadi bintangnya. Saham ini meroket hampir 119 persen, dari level 635 langsung melambung ke 1.390. Tak kalah heboh, Chemstar Indonesia (CHEM) juga naik 63,1 persen ke posisi 137. MNC Digital Entertainment (MSIN) ikut meramaikan pesta dengan kenaikan 60,58 persen menuju level 835.
Masih ada lagi. Alakasa Industrindo (ALKA) dan Asia Pramulia (ASPR) masing-masing menguat di atas 57 dan 44 persen. Saham-saham seperti VERN dan BLES pun mencatat kenaikan yang cukup signifikan, di atas 25 persen. Tampaknya, ada sentimen positif yang mendorong mereka meski pasar secara umum sedang berat.
Namun begitu, di sisi lain papan tulis, ceritanya jauh berbeda. Tekanan jual ternyata sangat kuat untuk beberapa emiten. Remala Abadi (DATA) jadi yang terpuruk, anjlok hampir 40 persen dari 3.630 ke 2.180. PP Presisi (PPRE) dan Trimitra Prawara Goldland (ATAP) juga ikut terimbas, masing-masing melemah lebih dari 30 persen.
Penurunan tajam ini sepertinya menular. Saham Wijaya Cahaya Timber (FWCT) turun 27,56 persen, Sat Nusapersada (PTSN) merosot 20,63 persen, dan LCK Global Kedaton (LCKM) terkoreksi 19 persen. Jadi, gambaran pasarnya memang terbelah: ada yang merayakan kenaikan fantastis, ada yang gigit jari melihat portofolionya memerah.
Secara angka, pergerakan ini memang beragam. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, 335 di antaranya naik lebih dari 2 persen. Sementara itu, 203 saham justru turun dengan besaran yang sama. Sisanya? Bergeming atau hanya bergerak sangat terbatas.
Tekanan luas akhirnya terlihat jelas di indeks. IHSG ditutup melemah 0,99 persen pada Kamis (2/4), berada di level 7.026,782. Posisi ini turun dari pekan sebelumnya yang masih bertengger di 7.097,057. Rasanya, sentimen campur aduk dan kehati-hatian investor masih mendominasi lantai bursa.
Yang menarik, aktivitas perdagangan menunjukkan pola unik. Nilai transaksi harian rata-rata anjlok cukup dalam, 36,69 persen, jadi cuma Rp14,77 triliun. Volumenya juga turun 8,62 persen. Tapi di tengah penurunan itu, frekuensi transaksi malah naik tipis, 3,08 persen, menjadi 1,78 juta kali per hari. Artinya apa? Transaksi kecil-kecilan mungkin lebih banyak, meski nilai totalnya menyusut.
Secara akumulasi, dalam sepekan volume perdagangan mencapai 103,47 miliar saham. Nilainya Rp59,08 triliun, dengan frekuensi 7,12 juta kali. Kapitalisasi pasar pun ikut tergerus, turun 1,69 persen menjadi Rp12.305 triliun.
Lalu, di mana peran pemain besar? Menurut catatan, tekanan jual bersih dari investor asing mencapai Rp2,95 triliun. Rinciannya, mereka membeli saham senilai Rp21,82 triliun, tapi menjual lebih banyak lagi, yakni Rp24,76 triliun. Aksi mereka jelas memberi warna pada pekan yang cukup bergejolak ini.
(Nur Ichsan Yuniarto)
Artikel Terkait
BRI Salurkan 5.000 Lebih Hewan Kurban ke Seluruh Indonesia saat Idul Adha
BEI Pindahkan GOTO dan BELI ke Papan Pengembangan, 26 Saham Naik Kelas ke Papan Utama
Harga Emas Batangan di Pegadaian Turun saat Iduladha, Antam Terkoreksi ke Rp2,897 Juta per Gram
Chandra Asri Resmi Kelola Pelabuhan Cilegon Selama 56 Tahun