Namun, ada faktor lain yang memicu keriuhan di lokasi pameran. Ibrahim menyoroti keinginan kuat masyarakat untuk langsung memegang dan memiliki emas dalam bentuk fisik. Meski opsi seperti bullion bank atau emas digital tersedia, kepercayaan publik terhadap logam yang bisa dipegang masih jauh lebih tinggi.
“Keinginan masyarakat di Jakarta Convention Center itu bisa membeli dan mendapatkan logamnya secara fisik. Selama ini masyarakat melakukan pembelian baik di gerai Antam maupun Pegadaian itu tidak ada barangnya. Walaupun sudah ada bullion bank, emas digital, tapi masyarakat lebih condong memilih yang ada fisiknya,” tuturnya.
Dukungan Fundamental Ekonomi Domestik
Kapasitas masyarakat untuk berinvestasi dalam skala seperti ini, menurut analisis, juga tidak lepas dari kondisi ekonomi Indonesia yang relatif solid. Pertumbuhan ekonomi yang tetap positif dan peningkatan indeks kepercayaan konsumen menciptakan perputaran uang yang sehat. Aliran dana itu kemudian banyak yang dialihkan ke instrumen investasi yang dianggap aman dan nyata, seperti logam mulia.
Suasana Lapangan dan Harga Acuan
Di lapangan, suasana terlihat cukup panas. Para pengunjung yang mengenakan lanyard merah terlibat aksi saling dorong dan berteriak, berusaha mendapatkan slot pembelian emas fisik yang stoknya terbatas. Mereka rela berdesakan sejak pagi hingga malam, dari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB, selama tiga hari pameran berlangsung.
Harga emas Antam yang menjadi patokan saat itu berada di level Rp 2.954.000 per gram. Angka ini menjadi magnet utama, memperkuat keyakinan bahwa berinvestasi sekarang akan mendatangkan keuntungan di masa depan. Gelaran yang seharusnya berjalan lancar itu pun akhirnya menyisakan cerita tentang tingginya minat masyarakat terhadap aset berwujud di tengah landscape ekonomi yang fluktuatif.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1% Ditekan Aksi Jual Asing Rp2,95 Triliun
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Rp20.000, Galeri24 dan UBS Turun Tipis
BEI Rilis Daftar Saham Berkepemilikan Sangat Terkonsentrasi, BREN dan DSSA Terancam MSCI
KB Bank Bangkit dari Kerugian Triliunan, Catat Laba Rp66,59 Miliar di 2025