Gerak IHSG pekan ini diprediksi bakal bergerak liar. Penyebabnya? Status Indonesia dalam indeks global MSCI masih menggantung, menciptakan ketidakpastian yang bikin investor was-was. Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, bilang penguatan IHSG MSCI yang sempat terjadi belum bisa dianggap sebagai sinyal pemulihan kepercayaan. Buktinya, aksi jual bersih investor asing terhadap saham-saham biru chip macam BBCA masih deras mengalir.
“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan,” kata Rully dalam risetnya, Minggu (15/2/2026).
Ia menambahkan, meski regulator dan bursa sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memperbaiki citra dan kredibilitas pasar, efeknya belum terasa maksimal. “Kami menilai sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG masih tinggi dengan potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing,” tegasnya.
Jadi, ke mana arah pasar? Menurut Rully, semuanya bergantung pada tiga hal: keputusan final MSCI, arus modal asing, dan kebijakan suku bunga The Fed. Tiga faktor ini yang akan jadi penentu arah dalam beberapa waktu ke depan.
Namun begitu, bukan berarti tidak ada secercah harapan. Fundamental dalam negeri masih menunjukkan sisi yang cukup tangguh. Inflasi yang rendah dan stabilitas makroekonomi yang terjaga bisa jadi penopang. Bahkan, potensi pemangkasan suku bunga BI bisa menjadi katalis positif untuk saham-saham yang berorientasi domestik.
“Namun demikian, kami melihat investor akan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global,” lanjut Rully.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 1% Ditekan Aksi Jual Asing Rp2,95 Triliun
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Rp20.000, Galeri24 dan UBS Turun Tipis
BEI Rilis Daftar Saham Berkepemilikan Sangat Terkonsentrasi, BREN dan DSSA Terancam MSCI
KB Bank Bangkit dari Kerugian Triliunan, Catat Laba Rp66,59 Miliar di 2025