Rabu lalu, tepatnya tanggal 11 Februari 2026, suasana di Cilegon, Banten, cukup berbeda. Para pimpinan Pertamina Group berkumpul untuk sebuah momen penting: kick-off proyek ESG Initiative Green Terminal Tanjung Sekong. Acara ini digelar oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, atau PGEO.
Inti dari proyek ini cukup menarik. PGEO akan mengembangkan green hydrogen, tapi bukan sembarang hidrogen. Sumbernya berasal dari panas bumi yang diambil dari Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulubelu di Lampung. Nah, hidrogen hijau inilah yang nantinya bakal dipakai untuk mendukung sistem kelistrikan di Terminal Tanjung Sekong, biar lebih rendah karbon.
Targetnya ambisius tapi bertahap. Mereka ingin meningkatkan porsi listrik rendah karbon untuk operasional terminal itu hingga sekitar 25 persen. Angka yang nggak main-main.
Menurut Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, langkah ini bukan sekadar proyek biasa. Ini adalah langkah konkret buat mengintegrasikan energi panas bumi ke dalam rantai hilir sektor energi.
"Melalui pengembangan green hydrogen berbasis panas bumi, kami mendorong pemanfaatan end-to-end panas bumi tidak hanya untuk penyediaan listrik," jelas Ahmad.
Artikel Terkait
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Rusun Bantaran Rel Senen Mei 2026
Laba Bersih ICBP Melonjak 30% Jadi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Biaya
Stok Beras Bulog Tembus Rekor 4,3 Juta Ton, Inflasi Berhasil Dikendalikan