Ujar Giovanni Staunovo, analis minyak di UBS. Keraguannya mewakili banyak pelaku pasar yang sedang menebak-nebak langkah kedua negara.
Di tengah fokus pada Iran, ada faktor lain yang juga diamati investor: upaya Barat membatasi pendapatan minyak Rusia. Komisi Eropa baru-baru ini mengusulkan larangan luas terhadap berbagai layanan pendukung ekspor minyak mentah Rusia via laut. Efeknya mulai terasa. India, yang sebelumnya jadi pembeli terbesar minyak Rusia, dilaporkan mulai menghindari pembelian untuk pengiriman April.
“Jika India sepenuhnya menghentikan pembelian minyak Rusia, hal tersebut akan menjadi perkembangan bullish yang berkelanjutan,”
Kata seorang analis dari Sparta Commodities. Artinya, tekanan pasokan bisa datang dari lebih dari satu titik.
Namun begitu, ada juga kabar yang sedikit meredakan. Produksi di ladang minyak raksasa Tengiz di Kazakhstan, yang dioperasikan konsorsium pimpinan Chevron, mulai pulih. Sudah mencapai sekitar 60 persen dari kapasitas puncak dan menargetkan kembali normal pada 23 Februari mendatang.
Sementara itu, untuk pasar AS sendiri, prediksi awal Reuters menunjukkan pergerakan stok yang beragam. Persediaan minyak mentar diperkirakan naik pekan lalu, tapi stok bensin dan distilat justru diperkirakan turun. Sebuah dinamika lokal yang tetap akan mempengaruhi sentimen.
Jadi, pasar minyak sekali lagi terjebak dalam tarik ulur antara risiko geopolitik yang memanas dan sinyal-sinyal fundamental yang beragam. Menunggu langkah berikutnya dari Washington dan Tehran.
Artikel Terkait
MORA Siapkan Buyback Rp1,02 Triliun Jelang Merger dengan EMR
Obligasi dan Sukuk RATU Tembus Oversubscription 6,8 Kali Lipat
ENVY Rencanakan Akuisisi 99% Saham Delapan Media Komunikasi
IHSG Turun 0,94% ke 7.097,06, Mayoritas Sektor Tertekan