Harga Minyak Menguat Imbas Imbauan AS Hindari Perairan Iran

- Selasa, 10 Februari 2026 | 07:40 WIB
Harga Minyak Menguat Imbas Imbauan AS Hindari Perairan Iran

Harga minyak dunia kembali merangkak naik, menguat lebih dari satu persen pada perdagangan Senin kemarin. Pemicunya? Imbauan resmi dari Departemen Transportasi Amerika Serikat yang meminta kapal-kapal berbenderanya untuk menjauh dari perairan Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman. Langkah ini jelas bukan tanpa alasan.

Menurut catatan otoritas maritim AS, kapal-kapal yang melintasi wilayah itu punya riwayat panjang menghadapi risiko penyitaan oleh pasukan Iran. Insiden terbaru terjadi awal bulan ini, tepatnya tanggal 3 Februari. Makanya, imbauannya cukup spesifik: untuk kapal yang berlayar ke arah timur di Selat Hormuz, disarankan tetap berada dekat perairan Oman. Sebuah langkah defensif yang langsung menggugah pasar.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent akhirnya ditutup naik 1,5 persen ke level USD69,04 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 1,3 persen, mengakhiri hari di angka USD64,36 per barel.

Kekhawatiran utamanya sederhana: ketegangan AS-Iran ini bisa berujung pada gangguan pasokan. Dan itu bukan ancaman sepele. Coba bayangkan, sekitar seperlima konsumsi minyak global harus melewati selat sempit antara Oman dan Iran itu. Gangguan sedikit saja, dampaknya akan terasa di seluruh dunia.

“Perdagangan minyak mentah pekan ini, dan mungkin hingga akhir bulan, tidak banyak ditentukan oleh fundamental minyak, melainkan oleh masuk dan keluarnya premi risiko terkait Iran,”

Begitu penilaian Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates, seperti dikutip Reuters. Analisisnya cukup jitu, menggambarkan suasana pasar yang digerakkan oleh geopolitik, bukan sekadar permintaan dan penawaran.

Padahal, sebelumnya sempat ada angin tenang. Harga minyak sempat melemah setelah AS dan Iran sepakat melanjutkan perundingan tidak langsung. Pembicaraan itu bahkan disebut-sebut berlangsung positif. Namun suasana itu langsung berubah ketika Menteri Luar Negeri Iran, pada Sabtu lalu, menyatakan negaranya siap menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah jika diserang lebih dulu. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan peningkatan kehadiran angkatan laut AS di kawasan.

“Situasinya sangat sulit dinilai ke mana arahnya. Kami memantau hari demi hari, kini menunggu penetapan tanggal untuk putaran kedua perundingan,”

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar