Kawasan industri Cikarang tetap menjadi pilar utama, menyumbang Rp1,1 triliun atau sekitar 5 persen peningkatan dari tahun sebelumnya. Kontribusi ini berasal dari penjualan lahan dengan total luas 21,2 hektare di berbagai segmen. Rincian lebih lanjut menunjukkan, penjualan tanah matang kawasan industri mencapai Rp567,4 miliar (18 hektare), sementara produk tanah dan bangunan menyumbang Rp365,4 miliar.
Dari angka penjualan tanah matang dan bangunan pabrik (standard factory building) yang totalnya mencapai Rp860 miliar, terlihat komposisi investor yang berimbang.
"48 persen investor domestik sedangkan 52 persen berasal dari investor asing, terutama dari Korea dan China," jelas manajemen perusahaan dalam laporannya.
Transaksi signifikan tahun lalu termasuk penjualan lahan seluas 6 hektare kepada sebuah perusahaan Korea di sektor perawatan diri (personal care) dan 4 hektare kepada perusahaan Indonesia untuk pengembangan pusat data (data center).
Kendal: Lokomotif Pertumbuhan Baru
Sementara Cikarang tumbuh stabil, Kendal muncul sebagai lokomotif pertumbuhan dengan momentum yang lebih kencang. Kawasan ini menyumbang Rp2,51 triliun dari penjualan 142 hektare lahan di tahun 2025. Pencapaian ini menandai lompatan yang cukup signifikan, meningkat sekitar 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,14 triliun. Pertumbuhan pesat di Kendal inilah yang menjadi dasar keyakinan perusahaan untuk menetapkan target kontribusi yang lebih besar dari kawasan tersebut di tahun 2026.
Artikel Terkait
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Tjiwi Kimia Turun 7,2% di 2025 Meski Penjualan Stabil