"Tapi ini pun juga masih belum sedikit mengangkat sentimen positif," kata Ibrahim, menyiratkan bahwa ketenangan itu masih rapuh.
Lalu ada lagi konflik Rusia-Ukraina. Presiden AS Donald Trump disebut menginginkan penyelesaian damai pada Mei-Juni mendatang. Namun begitu, Trump justru berpotensi memicu ketegangan baru dengan China setelah menuding negara tersebut diam-diam melakukan uji coba nuklir.
"Nah inipun juga sebenarnya intrik-intrik yang kemungkinan ke depannya akan membuat harga mas dunia masih berpotensi mengalami kenaikan," tambah Ibrahim.
Ia juga menyoroti faktor internal AS yang mempengaruhi pasar. Fluktuasi dan tren pelemahan harga emas belakangan ini, salah satunya didorong oleh kabar terpilihnya Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed pengganti Jerome Powell. Sosok Warsh dikenal hawkish, atau berpandangan agresif menaikkan suku bunga.
"Rupanya pasar ini masih apatis terhadap Kevin Warsh yang selalu menginginkan suku bunga tinggi. Dan ini pun walau sebenarnya sudah dibantah oleh Trump bahwa kalau seandainya tidak mengikuti keinginan Trump ya kemungkinan juga akan dipecat juga," pungkas Ibrahim.
Jadi, pekan depan, pasar emas tampaknya masih akan diwarnai oleh gejolak. Dari data ekonomi hingga pernyataan politik, semua berbaur menciptakan alur yang tak mudah ditebak.
Artikel Terkait
IHSG Berbalik Merah Usai Dibuka Menguat, Sektor Keuangan dan Industri Jadi Penahan
Victoria Investama Suntik Rp13 Miliar ke Anak Usaha Asuransi lewat Private Placement
Perdagangan Minyak Rp8,45 Triliun dalam 60 Detik Sebelum Trump Umumkan Deeskalasi
Laba Bersih DSSA Anjlok 33%, Sektor Digital dan Energi Terbarukan Jadi Andalan