Perdagangan Minyak Rp8,45 Triliun dalam 60 Detik Sebelum Trump Umumkan Deeskalasi

- Kamis, 26 Maret 2026 | 08:15 WIB
Perdagangan Minyak Rp8,45 Triliun dalam 60 Detik Sebelum Trump Umumkan Deeskalasi

Drama di pasar minyak dunia pekan lalu benar-benar menunjukkan betapa rapuhnya harga energi. Hanya dalam selang waktu 15 menit yang menentukan, para trader bertaruh besar lebih dari setengah miliar dolar AS tepat sebelum Presiden Donald Trump mengumumkan penundaan serangan ke infrastruktur Iran. Aksi itu seperti membaca pikiran, dan langsung mengguncang pasar.

Menurut data dari LSEG dan perhitungan Reuters, rentang waktu singkat antara pukul 17.49 hingga 17.50 WIB itu begitu sibuk. Sekitar 5.100 lot kontrak berjangka minyak Brent dan WTI berpindah tangan, dengan nilai total menembus angka Rp8,45 triliun. Yang menarik, aktivitas jual mendominasi, meski siapa pelakunya masih jadi misteri.

Tekanan jual itu ternyata hanya pemanasan. Semuanya meledak setelah Trump menulis di Truth Social sekitar pukul 18.05 WIB. Isinya? Sinyal deeskalasi. Ia menyebut pembicaraan konstruktif dengan Teheran masih berjalan, meski sebelumnya sempat memberi ultimatum buka Selat Hormuz.

Pasar langsung panik. Aksi jual besar-besaran menghantam, dan harga minyak Brent anjlok hingga 15 persen dalam hitungan menit. Bayangan pasokan dari Teluk yang kembali lancar membuat investor buru-buru melepas aset.

Volumenya pun luar biasa. Cuma 60 detik setelah pernyataan Trump, lebih dari 13.000 lot setara 13 juta barel minyak diperdagangkan. Ini jauh melampaui lonjakan volume biasa. Brent yang sempat menyentuh USD112 per barel terjun bebas ke sekitar USD99. WTI juga ikut terperosok dari level USD99 ke USD86.

Hingga kini, pihak bursa seperti Intercontinental Exchange (ICE) dan CME Group memilih diam, tidak berkomentar soal gejolak ekstrem itu. Begitu pula dengan regulator seperti SEC dan CFTC, maupun Gedung Putih. Semuanya belum angkat bicara.

Meski sempat terpental, harga minyak sebenarnya masih bertahan di level tinggi. Faktanya, harga saat ini masih lebih dari 40 persen di atas level sebelum konflik Timur Tengah memanas akhir Februari lalu. Pasokan global yang terpangkas akibat konflik tetap jadi penopang utama.

Yang jelas, volatilitasnya sudah beda jauh. Rata-rata harian perdagangan Brent sebelum konflik cuma sekitar 300.000 lot. Tapi dalam empat pekan terakhir, angka itu melonjak drastis, sering menembus lebih dari 1 juta lot per hari. Pasar seperti demam.

Saat ini, Brent berkisar di USD102 per barel. Ketidakpastian masih membayangi, meski ada bisik-bisik negosiasi. Rasanya, setiap kabar dari Washington atau Teheran berikutnya bisa dengan mudah memicu drama baru dalam hitungan menit.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags