Di sebuah rapat koordinasi di Jakarta, Senin lalu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan permintaan anggaran tambahan yang cukup besar. Nilainya mencapai Rp 529 miliar. Dana itu dimaksudkan untuk membenahi fasilitas kesehatan di Aceh dan Sumatera yang porak-poranda akibat bencana.
“Kami sudah mengajukan surat ke Bapak Presiden pada 20 Januari lalu,” ujar Budi.
“Permintaannya untuk tambahan anggaran rehabilitasi pascabencana Sumatera, sebesar Rp 529 miliar. Rinciannya sudah kami siapkan, per rumah sakit dan per puskesmas.”
Menurutnya, anggaran tersebut akan dialokasikan untuk perbaikan menyeluruh. Mulai dari rumah sakit dan puskesmas, fasilitas pendukung, hingga tempat tinggal para tenaga kesehatan. Meski beberapa rumah sakit sudah berjalan lagi, kondisinya belum ideal dan masih butuh banyak perbaikan. Di sisi lain, situasinya lebih parah untuk sejumlah puskesmas.
“Nah, ini dua yang masih enggak bisa dioperasikan kembali karena memang sudah benar-benar hancur,” jelas dia. “Jadi mesti minta bantuan Pak Menteri PU.”
Kerusakannya ternyata tidak cuma pada gedung. Kemenkes sudah mendata habis-habisan apa saja yang perlu direvitalisasi total. Semuanya. Peralatan medis, komputer, mebelair, instalasi pengolahan air limbah, sampai sumur bor. Tak lupa, rumah para nakes.
“Kita lihat kalau rumahnya enggak diberesin, ini yang khusus nanti saya mau minta ke Pak Mendagri sama Pak Menko PMK,” ungkap Budi.
“Soalnya, kalau rumah dokternya berantakan, ya mereka juga enggak bisa kerja dengan baik.”
Saat ini, pencairan dana tambahan itu masih ditunggu. Sambil menunggu proses birokrasi, Kemenkes mengandalkan bantuan dari pihak swasta yang sudah mengalir. Donasi dari mereka, kata Budi, sudah mencapai Rp 118 miliar. “Jadi sisanya sedikit sambil menunggu anggaran. Supaya bisa lebih cepat,” ucapnya.
Persoalan lain yang muncul adalah sarana transportasi. Layanan medis sangat bergantung pada kendaraan operasional, dan kondisi di lapangan memprihatinkan.
“Mobil kan rusak semua di sana, termasuk ambulans,” katanya.
“Ambulans-ambulans itu jumlahnya 212 unit. Kita minta bantuan lah, merek-merek terkait untuk membenahinya. Ada yang bisa diperbaiki di tempat, ada juga yang harus dibawa ke Medan untuk turun mesin.”
Dengan segala kompleksitas itu, Budi punya target yang jelas. Ia berharap semua fasilitas kesehatan yang terdampak bisa berfungsi normal kembali pada Maret 2026.
“Target kami, di bulan Maret nanti, semua fasilitas kesehatan sudah beroperasi normal,” pungkasnya.
Artikel Terkait
PSG Vs Bayern Munich di Semifinal Liga Champions, Laga Final Dini yang Diprediksi Ketat
Tiga Sipir Lapas Blitar Diduga Jual Beli Kamar Sel Khusus hingga Rp100 Juta per Napi
Tim Uber Indonesia Kunci Juara Grup C Usai Comeback Dramatis Lawan Chinese Taipei
Polda Papua Bongkar Praktik Ilegal BBM Subsidi di Merauke, Negara Rugi Hingga Rp197 Juta