Warta Ekonomi, Jakarta Harga minyak yang terus menggantung di level tinggi, ditambah ancaman yang belum reda dari Iran, bisa saja membawa dunia ke jurang resesi. Peringatan serius ini datang dari raksasa keuangan BlackRock. Situasi ini muncul justru di saat Amerika Serikat mengajukan proposal perdamaian baru.
Larry Fink, sang CEO BlackRock, menyoroti titik rawan yang masih mengancam. Menurutnya, bahkan jika konflik langsung mereda sekalipun, risiko terhadap jalur perdagangan dan keamanan pasokan energi tetap besar. Masalahnya terletak pada manuver-manuver Iran di sekitar Selat Hormuz.
Dampaknya? Harga minyak berpotensi bertahan lama di kisaran US$100 hingga US$150 per barel. Fink meyakini skenario semacam itu bakal membawa konsekuensi dahsyat bagi perekonomian global.
Ia menegaskan, lonjakan energi ke level tersebut hampir pasti akan mendorong dunia ke dalam resesi. Alasannya jelas: efek berantainya terhadap inflasi, daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi akan sangat berat.
Sejauh ini, harga minyak memang sudah bergerak sangat liar. Volatilitas tinggi terjadi sejak perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah. Konflik ini mengacaukan distribusi energi global, dengan Selat Hormuz sebagai titik pusat gangguan. Bahkan International Energy Agency menyebut gangguan ini sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah, yang menggambarkan betapa dalam dampaknya terhadap pasar energi dunia.
Artikel Terkait
Suami di Makassar Laporkan Istri Diduga Jual Tiga Anak dan Keponakan
Gubernur DKI Ingatkan Perantau: Bekali Kemampuan Kerja, Jangan Jadi Beban Sosial
DLH DKI Bantah Tuduhan Buang Sampah ke Kali, Klaim Itu Titik Penampungan Resmi
Arus Balik di Daop 1 Jakarta Masih Dominasi Kedatangan, Capai 52 Ribu Penumpang