“Dalam situasi seperti sekarang, ketika investor asing banyak keluar, Danantara bisa berperan sebagai liquidity provider. Selain itu, Danantara juga bisa berorientasi pada keuntungan jangka menengah dan panjang dengan berinvestasi pada perusahaan yang valuasinya rendah namun memiliki fundamental yang kuat,” papar Myrdal.
Dia menambahkan, investasi Danantara tidak terbatas pada sektor riil, melainkan juga dapat menjangkau pasar modal secara luas melalui berbagai saluran yang dimiliki, seperti perusahaan sekuritas atau manajer investasi BUMN. Yang terpenting, seluruh aktivitas itu tetap berorientasi pada penciptaan nilai dan manfaat optimal bagi negara.
“Danantara tidak hanya bisa berinvestasi di sektor riil, tetapi juga di pasar modal secara umum. Yang penting tetap memberikan keuntungan dan manfaat bagi negara,” tuturnya.
Preseden Global dan Pentingnya Pengawasan
Pandangan serupa diungkapkan oleh pengamat ekonomi dan pasar modal Farid Subkhan. Ia menyebutkan bahwa keterlibatan sovereign wealth fund di bursa efek bukanlah hal baru dan telah menjadi praktik umum di tingkat global. Beberapa contohnya antara lain Temasek Holdings di Singapura, Qatar Investment Authority, dan China Investment Corporation (CIC) yang aktif berinvestasi di berbagai bursa dunia.
Dalam konteks Indonesia, Farid menilai Danantara berpotensi menjadi penggerak sekaligus penstabil pasar. Namun, untuk mencegah potensi tumpang tindih kewenangan, peran OJK sebagai regulator independen menjadi kunci utama.
“Ini penting agar Bursa Efek Indonesia tetap menjalankan fungsinya secara transparan, adil, akuntabel, dan pro pasar. OJK tidak boleh dipengaruhi oleh pemegang saham BEI dan sejauh ini kredibilitas serta independensinya tidak perlu diragukan,” jelas pengajar Universitas Perbanas tersebut.
Dengan demikian, diskusi mengenai Danantara ini mengarah pada sebuah konsensus di kalangan analis: keberadaannya di pasar modal memiliki landasan hukum yang jelas, dan potensi risikonya dapat dikelola dengan efektif selama fungsi pengawasan oleh regulator yang kredibel tetap dijaga secara ketat.
Artikel Terkait
Wall Street Anjlok, Ketegangan Timur Tengah dan Sinyal Trump Tekan Pasar
MORA Siapkan Buyback Rp1,02 Triliun Jelang Merger dengan EMR
Obligasi dan Sukuk RATU Tembus Oversubscription 6,8 Kali Lipat
ENVY Rencanakan Akuisisi 99% Saham Delapan Media Komunikasi