Stellantis, produsen di balik merek Jeep, membuat peringatan keras. Mereka memperkirakan kerugian fantastis lebih dari 22 miliar euro akibat rencana pengurangan dorongan pada kendaraan listrik (EV). Imbasnya, sahamnya terjun bebas lebih dari 20 persen baik di Wall Street maupun bursa Milan.
Ini semakin mempertegas betapa beratnya tekanan di sektor EV, setelah sebelumnya BYD asal China juga mencatat kerugian yang sangat besar.
Pergerakan menarik juga terlihat di pasar komoditas. Harga perak berfluktuasi dengan cukup tajam. Tapi pada akhirnya, logam mulia itu kembali melemah. Menurut pantauan, penjualan oleh investor ritel China yang terus berlanjut menjelang libur nasional menjadi salah satu penyebabnya.
Ke depan, semua mata kini tertuju pada data ketenagakerjaan AS. Laporan pekerjaan untuk Januari yang sangat dinantikan, ternyata ditunda rilisnya hingga Rabu pekan depan. Penundaan ini justru membuat spekulasi makin panas. Apalagi belakangan muncul tanda-tanda masalah baru: lowongan kerja merosot ke level terendah sejak 2020, sementara pengumuman PHK justru melonjak. Data-data itu membuat kita semua menebak-nebak, apa yang sebenarnya terjadi.
Jadi, meski dibuka menguat, perjalanan pasar saham AS hingga akhir pekan ini masih panjang. Dan penuh ketidakpastian.
Artikel Terkait
Harga Minyak Jatuh 11% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran
Wall Street Melonjak Usai Trump Tunda Ancaman Serangan ke Iran
Gubernur Fed Stephen Miran Desak Pemotongan Suku Bunga Lebih Agresif Dukung Pasar Tenaga Kerja
Wall Street Menguat Didorong Pernyataan Trump Soal Iran, Teheran Bantah Klaim Kontak