Rupiah Melemah ke Rp16.842 per Dolar Dihantam Sentimen Geopolitik Timur Tengah

- Kamis, 05 Februari 2026 | 15:50 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.842 per Dolar Dihantam Sentimen Geopolitik Timur Tengah

MURIANETWORK.COM - Nilai tukar rupiah tercatat melemah pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026), menyentuh level Rp16.842 per dolar AS. Pelemahan sebesar 65 poin atau 0,39 persen ini terjadi di tengah sentimen global yang bergejolak, terutama terkait ketegangan geopolitik di Timur Tengah, meski diimbangi dengan data pertumbuhan ekonomi domestik yang cukup solid sepanjang tahun 2025.

Sentimen Global Tekan Nilai Tukar

Pelemahan rupiah hari ini tidak terlepas dari ketegangan di pasar keuangan global. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti laporan media yang sempat mengabarkan potensi kegagalan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan Jumat. Kabar ini sempat memicu kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.

“Namun, kemudian pada hari itu, para pejabat dari kedua pihak mengatakan bahwa pembicaraan akan tetap berlangsung pada hari Jumat meskipun topik yang akan dibahas belum disepakati,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan Kamis.

Assuaibi menjelaskan, perbedaan pendapat yang masih lebar antara kedua negara menjadi sumber ketidakpastian. Iran disebut terbuka membahas program nuklirnya, sementara AS ingin memasukkan isu rudal balistik, dukungan terhadap kelompok bersenjata, dan situasi hak asasi manusia ke dalam agenda. Ketegangan ini, ditambah dengan ancaman militer yang masih mengambang, menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas di kawasan penghasil minyak tersebut.

Dinamika Kebijakan The Fed dan Hubungan AS-China

Di sisi lain, pasar juga terus mencermati perkembangan kebijakan moneter The Federal Reserve. Pengangkatan figur yang dianggap hawkish, Kevin Warsh, ke dalam kepemimpinan Fed telah mengubah ekspektasi pasar. Trader mulai menurunkan harapan untuk penurunan suku bunga, dengan alat CME FedWatch menunjukkan probabilitas turunnya suku bunga pada pertemuan Juni berada di sekitar 46 persen.

Sementara itu, percakapan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berlangsung positif, meredam ketegangan perdagangan antara dua raksasa ekonomi dunia. Trump mengungkapkan rencana kunjungan ke China pada April, dengan pembahasan yang mencakup perdagangan, militer, Taiwan, hingga pembelian energi.

Pertumbuhan Ekonomi Domestik Jadi Penopang

Di tengah tekanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. Badan Pusat Statistik melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen (year-on-year), melampaui konsensus ekonom yang sebelumnya memperkirakan angka maksimal 5,1 persen. Capaian ini juga lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar 5,03 persen.

Dari sisi produksi, kontribusi utama berasal dari industri pengolahan, perdagangan, pertanian, serta informasi dan komunikasi. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto menjadi penggerak utama. Secara geografis, pertumbuhan di wilayah Jawa dan Sulawesi tercatat berada di atas rata-rata nasional.

Proyeksi untuk Perdagangan Berikutnya

Mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif dengan bias melemah. Ia memperkirakan mata uang nasional berpotensi bergerak dalam rentang Rp16.840 hingga Rp16.900 per dolar AS pada sesi perdagangan selanjutnya. Analisis ini mencerminkan keseimbangan yang rapuh antara ketahanan data makro domestik dan gejolak sentimen risiko global yang masih perlu dipantau ketat oleh pelaku pasar.

Komentar