Minat global terhadap rencana Indonesia membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kian menguat. Proyek ini, yang dianggap sebagai langkah strategis, tak hanya soal transisi energi, tapi juga upaya memperkuat bauran energi rendah karbon di dalam negeri. Banyak pihak kini mulai melirik, baik untuk urusan investasi maupun transfer teknologi.
Menurut Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, kejelasan arah kebijakan energi di era pemerintahan baru inilah yang memicu ketertarikan itu.
“Selain itu, pemerintah juga telah memutuskan untuk memulai proyek tenaga nuklir sebesar tujuh gigawatt. Ini baru, ini benar-benar baru,”
kata Hashim dalam acara Indonesia Economic Summit 2026 di Hotel Shangrila, Rabu lalu.
Rencananya, pembangunan akan dilakukan bertahap. Dimulai dari kapasitas kecil dulu, baru kemudian ditingkatkan secara signifikan untuk jangka menengah dan panjang. Yang menarik, minat dari berbagai negara terus mengalir bahkan sejak tahap awal ini.
“Awalnya 500 megawatt, seiring waktu hingga 2034 akan menjadi tujuh gigawatt tenaga nuklir. Banyak negara telah menunjukkan niat untuk ikut serta dalam investasi, juga mempelajari teknologi dan sebagainya,”
jelasnya.
Proyek besar ini bukan berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari program kelistrikan nasional yang tercantum dalam RUPTL. Pemerintah punya target ambisius: membangun pembangkit listrik dengan total kapasitas 70 gigawatt dalam satu dekade ke depan. Dan dominasinya akan pada energi bersih.
“Untuk 10 tahun ke depan telah diumumkan bahwa 70 gigawatt akan dibangun,”
Artikel Terkait
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan
Harga CPO Menguat Pekan Ketiga, Didukung Konflik Timur Tengah dan Harga Energi