ucap Hashim.
Dari angka itu, sekitar 76 persen di antaranya akan bersumber dari energi terbarukan. Lalu, di mana posisi nuklir? Ia ditempatkan sebagai sumber tambahan yang stabil dan rendah emisi. Hashim mengakui, meski nuklir bukan solusi berbasis alam seperti angin atau matahari, dampaknya untuk memangkas emisi karbon sangatlah nyata.
“Sekali lagi, itu adalah bukti kuat komitmen, meskipun bukan solusi berbasis alam, tetapi ramah lingkungan, katakanlah, energi netral karbon,”
tegasnya.
Di sisi lain, pemerintah tak serta merta meninggalkan sumber energi konvensional. Gas alam masih akan dipakai sebagai tulang punggung transisi, setidaknya untuk menjaga keandalan pasokan listrik agar tetap stabil.
“Sisanya akan disediakan oleh gas alam, yang menurut saya semua pihak menganggapnya sebagai bahan bakar transisi,”
pungkas Hashim.
Jadi, skemanya mulai jelas. Energi terbarukan jadi andalan utama, nuklir sebagai penyangga yang stabil, dan gas alam menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih bersih.
Artikel Terkait
Pemerintah Sodorkan Keringanan Pajak untuk Pacu Investasi Energi Hijau
Kisah Evolusi Kucing: Dari Pemburu Liar ke Pendamping Setia Manusia
OJK Beri Tenggat 2029, Emiten Wajib Genjot Free Float ke 15 Persen
Guncang Pasar, Kuota Batu Bara 2026 Dipangkas Hingga 70 Persen