Yang menarik, bahkan dalam skenario terburuk sekalipun, Indonesia akan menjadi raksasa di kelompok pasar frontier kapitalisasinya bisa mencapai hampir separuh dari total kapitalisasi pasar frontier global. Salah satu bank kita juga termasuk 10 besar di Asia (luar Jepang) berdasarkan kapitalisasi pasar. Potensinya masih besar.
Daya tarik utama? Valuasi yang sekarang terlihat miring. Rasio P/E IHSG dan LQ45 ada di bawah rata-rata historis. Ditambah lagi, bonus demografi dan momentum komoditas masih jadi pendongkrak jangka panjang.
Karena itulah, DBS tetap merekomendasikan "overweight" untuk saham Indonesia. Koreksi harga yang terjadi justru dilihat sebagai peluang untuk mengumpulkan saham-saham unggulan berkapitalisasi besar. Saran mereka, pertahankan alokasi di pasar domestik, dan manfaatkan momen ketidakpastian ini untuk berburu harga menarik.
Intinya, badai mungkin masih terasa. Tapi fondasi rumah kita masih kokoh. Tinggal bagaimana kita memperkuatnya.
Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Pasar Asia Bangkit dari Keterpurukan, KOSPI Melonjak hingga Picu Pembatasan Perdagangan
IHSG Coba Bangkit Usai Anjlok, Analis Proyeksi Pergerakan Sempit
Empat Saham Kembali ke Pasar, Masuk Papan Khusus Setelah Masa Suspensi
Harga Emas Antam Anjlok Drastis, Sentuh Rp 2,8 Juta per Gram