Fenomena serupa terlihat jauh di selatan, tepatnya di Australia. Di pusat kota Sydney, antrian di gerai ABC Bullion dekat Martin Place begitu panjang sampai mengular ke jalan.
Singapura memang tetap jadi magnet. Statusnya sebagai hub kekayaan global, ditambah kebijakan bebas pajak untuk emas batangan berkualitas investasi, membuatnya selalu ramai. Tampaknya, investor ritel masih percaya faktor pendorong kenaikan emas belum benar-benar hilang. Ketidakpastian seputar kebijakan Trump dan pelemahan mata uang global dinilai masih akan menyokong harga.
Deutsche Bank AG bahkan masih optimis. Dalam catatan mereka hari Senin, bank itu mempertahankan proyeksi harga emas bisa menembus USD 6.000 per ons.
Lain cerita di Thailand. Di sana, investor cenderung memilih bertahan. Menurut pelaku pasar, orang lebih memilih menyimpan emas yang sudah mereka punya ketimbang melepasnya di tengah gejolak.
Jadi, meski grafik naik-turun, minat terhadap logam kuning ini ternyata tak mudah padam. Antrian di berbagai kota itu bicara lebih keras dari sekadar angka di layar.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak