Wall Street Bangkit, Saham Kecil Ikut Melesat di Tengah Gairah AI

- Selasa, 03 Februari 2026 | 06:45 WIB
Wall Street Bangkit, Saham Kecil Ikut Melesat di Tengah Gairah AI

Wall Street kembali menunjukkan taringnya di awal pekan ini. Setelah beberapa hari lesu, pasar saham AS ditutup menguat pada Senin (2/2/2026), dengan S&P 500 nyaris mencetak rekor baru. Sentimen positif ini terutama digerakkan oleh dua hal: gairah di sektor produsen chip dan performa gemilang saham-saham berkapitalisasi kecil.

Indeks S&P 500 sendiri naik 0,54 persen, berakhir di level 6.976,44 poin. Angka itu cuma selisih tipis dari rekor penutupan tertingginya yang tercatat pekan lalu. Kenaikan ini cukup signifikan, mengingat ini adalah kenaikan pertama dalam tiga sesi terakhir. Sebelumnya, ada kekhawatiran bahwa valuasi saham teknologi yang melesat tinggi berkat euforia AI sudah terlalu mahal.

Namun begitu, kekhawatiran itu sepertinya tenggelam oleh optimisme baru. Saham-saham perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan kembali melonjak. Dan yang menarik, saham perusahaan kecil juga ikut meroket.

Indeks Russell 2000, yang menjadi barometer saham kecil, melesat sekitar 1 persen. Bahkan, sepanjang tahun 2026 ini, kinerjanya jauh mengungguli S&P 500. Russell sudah naik lebih dari 6 persen, sementara S&P 'hanya' sekitar 2 persen. Bagi banyak pengamat, ini sinyal penting. Kenaikan saham kecil sering diartikan sebagai cerminan kepercayaan investor terhadap fondasi ekonomi yang solid.

“Fundamentalnya baik dan laba kuat,” ujar Tim Ghriskey, seorang strategis portofolio senior di Ingalls & Snyder, New York.

“Kami mendapatkan kejutan positif baik untuk pendapatan maupun laba, hampir di semua sektor,” tambahnya.

Perkiraan analis pun ikut menyesuaikan ke atas. Mereka sekarang memproyeksikan pertumbuhan laba perusahaan-perusahaan di S&P 500 untuk kuartal Desember mendekati 11 persen. Angka itu naik dari perkiraan awal Januari yang sekitar 9 persen.

Di sisi lain, tidak semua saham ikut dalam pesta ini. Saham Walt Disney justru anjlok 7,4 persen, meski laba kuartalannya mengalahkan ekspektasi Wall Street. Penyebabnya? Peringatan perusahaan soal penurunan pengunjung taman hiburan dan laba divisi TV-film mereka yang mengecewakan.

Sementara itu, aktivitas di lantai bursa terbilang ramai. Volume perdagangan mencapai 20,1 miliar saham, lebih tinggi dari rata-rata 20 sesi sebelumnya. Data ekonomi juga memberi angin segar: aktivitas manufaktur AS tumbuh untuk pertama kalinya dalam setahun pada Januari lalu.

Nuansa tenang juga terlihat dari indeks volatilitas CBOE VIX, atau yang kerap disebut "pengukur ketakutan" Wall Street. Indeks ini turun 1 poin ke level 16,5, setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir dua minggu selama sesi perdagangan.

Tapi, ada juga sektor yang tertekan. Indeks energi S&P 500 jatuh 2 persen, seiring melemahnya harga minyak. Pelemahan ini dipicu komentar Presiden Donald Trump yang menyebut Iran sedang "berunding serius" dengan Washington. Isyarat de-eskalasi ini meredakan ketegangan geopolitik dan kekhawatiran soal pasokan.

Di tengah penurunan harga energi, justru saham maskapai penerbangan mendapat angin. United Airlines, JetBlue, Delta, dan Southwest, semuanya meroket antara 4 hingga 8 persen. Biaya bahan bakar yang lebih murah jelas jadi kabar baik bagi industri ini.

Di luar bursa, perhatian juga tertuju ke Capitol Hill. Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang membahas RUU untuk mengakhiri penutupan sebagian pemerintah yang berlangsung sejak Sabtu. Pemungutan suara akhirnya diharapkan bisa dilakukan pada Selasa.

Secara keseluruhan, suasana di Wall Street hari ini terasa lebih cerah. Gairah teknologi AI masih jadi penggerak utama, tapi kepercayaan yang meluas ke saham-saham kecil memberi sinyal bahwa pemulihan mungkin lebih inklusif dari yang diperkirakan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar