Program Makan Bergizi Indonesia Jadi Sorotan Gedung Putih dan Rockefeller

- Selasa, 03 Februari 2026 | 08:18 WIB
Program Makan Bergizi Indonesia Jadi Sorotan Gedung Putih dan Rockefeller

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Indonesia tiba-tiba jadi buah bibir di kancah global. Bukan main, Gedung Putih dan Rockefeller Institute kabarnya sedang mengamati dengan saksama skema program ini. Mereka penasaran, bagaimana caranya sebuah program sebesar itu bisa dijalankan secara masif dan cepat, melibatkan begitu banyak mitra di dalam negeri.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan ketertarikan itu muncul setelah perwakilan Rockefeller Foundation bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan itu, MBG dinilai sebagai sebuah pendekatan baru yang belum pernah diterapkan di negara lain.

“Ya, sebetulnya ketika dari Rockefeller Foundation itu datang, kan, saya diminta Pak Presiden untuk menemani makan malam. Yang bersangkutan berbincang langsung juga dengan Pak Presiden di depan kami. Memang mereka menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Indonesia termasuk dengan metode yang baru pertama kali dilakukan di dunia, ya. Di mana pelaksanaan MBG bisa melibatkan demikian banyak mitra dan bisa berjalan demikian cepat. Saya kira itu menjadi kajian yang cukup menarik bagi mereka,” kata Dadan kepada wartawan usai Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Senin (2/2).

Menurut Dadan, dampak MBG ternyata ganda. Di satu sisi, program ini memenuhi kebutuhan gizi. Namun begitu, ada efek samping yang menyenangkan: perekonomian di level akar rumput ikut bergerak kencang. Uang yang diturunkan langsung ke bawah ternyata punya daya ungkit yang kuat.

Angkanya cukup fantastis. Sepanjang Januari saja, BGN telah menyalurkan anggaran hingga Rp 19,5 triliun. Dana segitu, yang mengalir langsung ke masyarakat, jelas memicu geliat ekonomi. Kebutuhan bahan pangan naik, bahkan usaha-usaha baru bermunculan.

“Dan sampai saat ini saja Badan Gizi sudah mengeluarkan Rp 19,5 triliun untuk bulan Januari. Dan itu menggerakkan roda ekonomi, tidak hanya kebutuhan bahan baku meningkat tapi juga faktor ikutannya,” katanya.

Dadan memberi contoh nyata. Kebutuhan operasional dapur-dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) ternyata melahirkan peluang usaha. Ambil contoh sabun. Satu SPPG butuh sekitar 25 liter sabun per hari. Bayangkan kebutuhan dari puluhan ribu dapur yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu artinya pasar baru yang terbuka lebar.

Di sisi lain, BGN tak mau hanya berfokus pada ekspansi. Mereka terus memperbaiki tata kelola. Presiden Prabowo sendiri memberi arahan agar kecepatan pelaksanaan harus seiring dengan peningkatan kualitas dan keamanan pangan. Soal ini, mereka serius.

Saat ini, MBG sudah ditopang oleh 22.275 SPPG yang melayani sekitar 60,7 juta orang. Ke depan, akan dibentuk tim khusus untuk akreditasi dan sertifikasi. Tujuannya jelas: memastikan semua dapur memenuhi standar. Bahkan rencananya akan ada pengelompokan kualitas, dari nilai A sampai C.

Komitmen pada kualitas ini diuji baru-baru ini. Menyusul laporan keracunan makanan di Kudus, BGN langsung bergerak cepat. Dadan tak segan meminta maaf dan menjanjikan tindakan tegas.

“Ya, pertama saya sebagai kepala Badan Gizi Nasional meminta maaf kepada para penerima manfaat yang mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Kami sudah melakukan investigasi, analisis untuk beberapa SPPG yang mengalami kejadian,” ujarnya.

Beberapa SPPG yang kedapatan melanggar akan dapat ‘kartu kuning’. Penyebabnya sering sepele tapi krusial, seperti penggunaan bahan baku dari luar yang proses pengolahannya tak terawasi. Mereka juga akan mengevaluasi menu-menu tertentu yang berisiko jika dimasak dalam skala besar.

Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Investasi Masa Depan

Menariknya, perhatian internasional ini bukan tanpa alasan. Menurut penilaian Rockefeller Institute, MBG bukan program bantuan biasa. Ini adalah investasi jangka panjang yang dampak ekonominya bisa berlipat ganda. Presiden Prabowo sendiri yang menyampaikan hal ini.

“Saya hanya ingin memberi tahu, saudara-saudara. Saya baru satu hari yang lalu, para ahli pakar dari White House sedang mempelajari MBG kita ini. Sedang mempelajari MBG kita sendiri. Tiga bulan, empat bulan yang lalu saya terima rombongan dari Rockefeller Institute datang ke saya,” kata Prabowo dalam pidatonya.

Prabowo juga menyoroti dampak nyata program ini pada penciptaan lapangan kerja. Dari operasional dapur SPPG saja, disebutkan sudah menyerap sekitar 1 juta tenaga kerja. Angka yang tidak kecil.

Kedepan, MBG akan terus diperluas. Targetnya, program ini harus bisa menjangkau 82 juta penerima manfaat paling lambat Desember 2026. Caranya dengan menambah lebih banyak lagi dapur SPPG dan mengintegrasikannya dengan program sosial lain yang sudah ada. Perjalanan masih panjang, tapi langkah awalnya sudah mendapat sorotan dunia.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar