Program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Indonesia tiba-tiba jadi buah bibir di kancah global. Bukan main, Gedung Putih dan Rockefeller Institute kabarnya sedang mengamati dengan saksama skema program ini. Mereka penasaran, bagaimana caranya sebuah program sebesar itu bisa dijalankan secara masif dan cepat, melibatkan begitu banyak mitra di dalam negeri.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengungkapkan ketertarikan itu muncul setelah perwakilan Rockefeller Foundation bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto. Dalam pertemuan itu, MBG dinilai sebagai sebuah pendekatan baru yang belum pernah diterapkan di negara lain.
Menurut Dadan, dampak MBG ternyata ganda. Di satu sisi, program ini memenuhi kebutuhan gizi. Namun begitu, ada efek samping yang menyenangkan: perekonomian di level akar rumput ikut bergerak kencang. Uang yang diturunkan langsung ke bawah ternyata punya daya ungkit yang kuat.
Angkanya cukup fantastis. Sepanjang Januari saja, BGN telah menyalurkan anggaran hingga Rp 19,5 triliun. Dana segitu, yang mengalir langsung ke masyarakat, jelas memicu geliat ekonomi. Kebutuhan bahan pangan naik, bahkan usaha-usaha baru bermunculan.
Dadan memberi contoh nyata. Kebutuhan operasional dapur-dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) ternyata melahirkan peluang usaha. Ambil contoh sabun. Satu SPPG butuh sekitar 25 liter sabun per hari. Bayangkan kebutuhan dari puluhan ribu dapur yang tersebar di seluruh Indonesia. Itu artinya pasar baru yang terbuka lebar.
Di sisi lain, BGN tak mau hanya berfokus pada ekspansi. Mereka terus memperbaiki tata kelola. Presiden Prabowo sendiri memberi arahan agar kecepatan pelaksanaan harus seiring dengan peningkatan kualitas dan keamanan pangan. Soal ini, mereka serius.
Saat ini, MBG sudah ditopang oleh 22.275 SPPG yang melayani sekitar 60,7 juta orang. Ke depan, akan dibentuk tim khusus untuk akreditasi dan sertifikasi. Tujuannya jelas: memastikan semua dapur memenuhi standar. Bahkan rencananya akan ada pengelompokan kualitas, dari nilai A sampai C.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Anjlok Drastis, Sentuh Rp 2,8 Juta per Gram
Timah Kolaps 10%, Minyak Tergelincir: Pasar Komoditas Dibanjiri Sinyal Merah
OJK dan BEI Ajukan Solusi Transparansi untuk Jawab Kekhawatiran MSCI
Trump Pangkas Tarif India, Modi Balas dengan Komitmen Belanja Ratusan Miliar Dolar