Senin (2/2) nanti, pasar saham bakal dibuka dalam suasana tegang. Semua mata tertuju pada pertemuan penting antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Agenda ini jadi penentu suasana.
Memang, pekan lalu benar-benar mencekam. IHSG sempat terperosok lebih dari 8 persen hanya dalam dua hari, Rabu dan Kamis. Guncangan itu sampai memaksa BEI menghentikan perdagangan sementara, bukan cuma sekali, tapi dua kali. Situasinya kacau balau.
Di sisi lain, MSCI sendiri sedang menyoroti sesuatu yang krusial: perubahan aturan perhitungan "free float" saham di Indonesia. Ini bukan perkara sepele. Goldman Sachs Group Inc. bahkan ikut merespons dengan menurunkan peringkat investasi Indonesia jadi "underweight".
Kekhawatiran MSCI, menurut analisis, berkutat pada aspek kelayakan investasi. Kalau sampai ada masalah, dampaknya bisa besar. Bisa memicu arus keluar dana pasif yang nilainya fantastis, mencapai USD 13 miliar.
Gejolak di pasar ini ternyata diikuti gelombang pengunduran diri yang mengejutkan. Iman Rachman selaku Dirut BEI memutuskan mundur. Tak sendirian, sejumlah pucuk pimpinan di OJK juga menyusul, seperti Mahendra Siregar, Inarno Djajadi, dan Aditya Jayaantara.
Belum reda, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga memilih angkat kaki. Mundurnya mereka ini dikait-kaitkan dengan ambruknya IHSG pekan lalu.
Lalu, bagaimana prospek ke depannya? Phintraco Sekuritas punya pandangan.
“Investor cenderung "wait and see",” tulis mereka dalam laporannya.
Artikel Terkait
Krisis BEI, Danantara Soroti Reformasi Total untuk Pulihkan Kepercayaan
Peringatan MSCI Jadi Pemicu, Luhut: Saatnya Transformasi Pasar Modal
Pasar Asia Terguncang, Perak Anjlok dan Minyak Terseret Isu Iran
Harga Emas Antam Melonjak Rp 167 Ribu per Gram di Awal Pekan