Menurut Phintraco, pasar sedang menanti langkah konkret OJK dan BEI dalam memenuhi syarat dari MSCI, yang deadline-nya Mei 2026. Mundurnya pimpinan BEI dan instruksi dari Presiden Prabowo pun, sejauh ini, belum mampu menenangkan pasar yang masih fluktuatif.
Secara teknikal, mereka memproyeksi IHSG akan berkonsolidasi di kisaran 8.150 sampai 8.600.
“Jika IHSG mampu bertahan di atas 8600, berpotensi melanjutkan rebound,” terang Phintraco.
Untuk portofolio, sejumlah saham seperti HMSP, TOBA, UNVR, BRIS, BBTN, dan GGRM bisa jadi perhatian.
Sementara itu, dari sudut pandang berbeda, analis MNC Sekuritas melihat sinyal teknikal lain. Mereka memperkirakan IHSG sedang berada di akhir wave (a) dari wave [x], yang artinya koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi. Area koreksinya kira-kira di 7.945–8.189.
Tapi bukan berarti tak ada harapan. Potensi penguatan masih ada di rentang 8.527–8.812. Level support diperkirakan di 7.985 dan 7.762, sementara resistance terdekat ada di 8.341 dan 8.590.
MNC Sekuritas menyarankan untuk memantau saham-saham seperti ASII, DAAZ, ESSA, dan MBMA. Menunggu Senin dengan napas ditahan.
Artikel Terkait
Krisis BEI, Danantara Soroti Reformasi Total untuk Pulihkan Kepercayaan
Peringatan MSCI Jadi Pemicu, Luhut: Saatnya Transformasi Pasar Modal
Pasar Asia Terguncang, Perak Anjlok dan Minyak Terseret Isu Iran
Harga Emas Antam Melonjak Rp 167 Ribu per Gram di Awal Pekan